Nisita.info – Di sela keriuhan libur Natal dan Tahun Baru 2026, sebuah pemandangan kontras tersaji di sudut Kota Bandung. Di antara deretan lapak bumbu dan sayur yang lembap, tercium aroma kopi spesialitas yang menyeruak kuat.
Inilah Cihapit, sebuah kawasan yang membuktikan bahwa ekonomi kreatif tidak harus selalu lahir di gedung-gedung kaca, melainkan bisa tumbuh subur di sela-sela gang sempit pasar rakyat.
Jumat (2/1/2026), Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyusuri trotoar kawasan ini.
Bukan sekadar meninjau, ia sedang menilik bagaimana “local hero” atau pahlawan kreatif lokal berhasil mengubah ruang fisik menjadi titik distribusi karya yang bernilai ekonomi tinggi.
Langkah Menteri bermula dari Tahilalats Store. Di sini, ia menyoroti fenomena menarik: bagaimana Intellectual Property (IP) atau kekayaan intelektual lokal yang awalnya hanya hidup di jagat digital (komik daring), kini menjelma menjadi ritel fisik yang memperluas interaksi dengan konsumen.
“Melalui ruang kreatif dan pasar ekraf di daerah, kita mendorong karya dan IP lokal semakin dikenal, diapresiasi, dan bernilai ekonomi,” ujar Teuku Riefky.
Baginya, fenomena Tahilalats adalah bukti bahwa penguatan ekonomi kreatif dari daerah merupakan fondasi utama bagi kekuatan nasional di pasar global.
Beranjak lebih dalam ke jantung Pasar Cihapit, suasana makin semarak. Pelaku subsektor kuliner seperti Batagor Kahuripan, Toko Kopi Pasar Cihapit, hingga Cerita Manis tampak sibuk melayani lonjakan pengunjung libur awal tahun. Di sini, pasar bukan sekadar tempat transaksi, melainkan panggung budaya gastronomi.
Menteri Riefky menegaskan bahwa pasar kuliner adalah titik konsumsi langsung yang mendukung daya tarik wisata kota. Namun, Cihapit tidak berhenti di urusan perut.
Kehadiran jenama fesyen lokal seperti Damakara dan ruang ritel kurasi Grammars menunjukkan keberagaman ekosistem dalam satu kawasan. Keberadaan berbagai subsektor—kuliner, fesyen, hingga desain—dalam satu ruang pasar inilah yang meningkatkan daya tarik kawasan secara eksponensial.
Kunjungan ini menegaskan optimisme pemerintah terhadap apa yang disebut sebagai “Asta Ekraf”. Strateginya jelas: mendorong pahlawan lokal naik ke tingkat nasional, dan membawa yang sudah mapan secara nasional ke kancah global.
“Melalui pasar ekonomi kreatif, produk dan bisnis lokal semakin dikenal dan dibeli masyarakat. Dari daerah inilah ekonomi kreatif akan tumbuh menjadi the new engine of growth,” tegas Menteri Riefky dengan optimis.
Kini, Cihapit bukan lagi sekadar pasar tempat membeli kebutuhan pokok. Ia telah bertransformasi menjadi laboratorium kreativitas, tempat di mana tradisi bersalaman dengan inovasi, dan tempat di mana ekonomi masa depan Indonesia sedang dirajut dengan penuh warna.(BK-Ekraf/*)















