Nisita.info – Di bawah langit Kecamatan Leuwiliang yang teduh, sebuah transformasi besar sedang bermula. Bukan dari balik meja diskusi atau orasi di jalanan, melainkan melalui jemari yang berlumur tanah.
Para mahasiswa, bersama masyarakat lokal dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, turun langsung ke jantung hulu Sungai Cisadane untuk sebuah misi krusial: mengembalikan “paru-paru” Bogor yang kian sesak.
Kehadiran generasi muda dalam aksi tanam pohon ini bukan sekadar pelengkap seremoni. Mereka adalah simbol perubahan paradigma, di mana teori akademis di kampus diterjemahkan menjadi bakti nyata bagi Bumi.
Bagi jutaan jiwa yang menggantungkan hidup dari aliran sungai ini hingga ke hilir, keterlibatan aktif mahasiswa adalah jaminan bahwa masa depan ekosistem hulu tidak lagi ditinggalkan sendirian.
Dalam aksi tersebut, Menteri Hanif Faisol Nurofiq memberikan pesan mendalam tentang arah pembangunan bangsa.
Ia menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia berhenti mengadu domba antara ekonomi dan lingkungan.
“Mari kita jadikan lingkungan sebagai panglima. Jika ekonomi didorong ke depan sementara lingkungan diletakkan di belakang, maka biaya yang harus kita tanggung akan jauh lebih mahal,” tegas Menteri Hanif.
Tanpa daya dukung lingkungan yang kuat, menurutnya, pertumbuhan ekonomi sebesar apa pun akan menjadi sia-sia dan kehilangan makna ketika bencana mulai menyapa.
Bakti Nyata Sang Duta Kampus
Arjuna Pratama, Duta Kampus IUQI Bogor, menjadi salah satu wajah optimisme di lapangan. Baginya, menanam adalah bahasa cinta yang paling jujur terhadap tanah air.
Di tengah kerentanan hulu Cisadane sebagai penyangga hidrologis, kepekaan mahasiswa dianggap sebagai kunci kendali banjir dan ketersediaan air di masa depan.
“Kegiatan seperti ini sangat penting agar kita lebih peka. Dari langkah sederhana ini, kita ikut membantu melestarikan alam agar tetap asri, sehingga Bumi Indonesia tetap terjaga,” ujar Arjuna dengan penuh semangat.
Semangat inilah yang menyulut rasa aman bagi warga lokal seperti Astri, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang risiko bencana di bantaran sungai.
Bagi Astri, kehadiran mahasiswa dan pemerintah yang menanam bersama warga adalah simbol perlindungan bagi anak cucu mereka.
Lebih dari Sekadar “Tanam Lalu Tinggal”
Pemerintah melalui KLH/BPLH memastikan bahwa aksi di Leuwiliang ini adalah proyek jangka panjang.
Strategi pemulihan dirancang mencakup pendampingan dan pemeliharaan rutin, memastikan bibit yang ditanam benar-benar tumbuh menjadi pelindung alam yang tangguh.
Kolaborasi lintas generasi antara mahasiswa sebagai kaum intelektual, warga sebagai penjaga tapal batas, dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, kini diposisikan sebagai model ideal mitigasi perubahan iklim.
Di hulu Cisadane, setiap bibit yang tertanam bukan sekadar kayu dan daun, melainkan investasi nyawa dan napas baru bagi Indonesia yang lebih lestari.(HM/KLH-BPLH/*)















