Nisita.info, Aceh Tamiang — Lorong-lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang yang beberapa hari lalu terendam luapan air, kini mulai bergeliat kembali.
Bau sisa lumpur perlahan berganti dengan aroma disinfektan saat tim gabungan dan tenaga medis bahu-membahu melakukan pembersihan intensif.
Di tengah tantangan alat medis yang terdampak dan ruang rawat yang masih dalam sterilisasi, secercah harapan muncul: pelayanan kesehatan mulai berdenyut lagi.
Prioritas utama kini ada pada unit gawat darurat dan instalasi sementara agar warga yang membutuhkan pertolongan medis mendesak tidak lagi harus menempuh jarak jauh ke kabupaten tetangga.
Pemulihan rumah sakit ini menjadi titik krusial dalam operasi kemanusiaan di Aceh. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, saat meninjau langsung RSUD Aceh Tamiang pada Rabu (24/12), menegaskan bahwa fasilitas medis adalah objek vital yang tidak boleh lumpuh terlalu lama. Bukan hanya soal pembersihan fisik, aspek “urat nadi” komunikasi pun menjadi perhatian serius.
“Alhamdulillah, perbaikannya sudah progresif. Jaringan telekomunikasi di Aceh Tamiang sudah mencapai uptime sekitar 70 persen, dan kita dukung penguatan jaringan di sekitar rumah sakit dengan instalasi satelit Starlink,” ujar Nezar.
Upaya ini selaras dengan target ambisius dari Kementerian Kesehatan. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa RSUD Aceh Tamiang adalah satu dari 31 rumah sakit terdampak banjir di Sumatra yang menjadi fokus pemulihan kilat. Pemerintah menargetkan seluruh fasilitas kesehatan tersebut dapat beroperasi penuh dalam waktu dua minggu.
“Di RSUD Aceh Tamiang, instalasi sementara sudah jalan hari ini. Tahap selanjutnya adalah perbaikan fasilitas medis permanen agar seluruh fungsi rumah sakit kembali normal,” jelas Menkes Budi dalam dialog koordinasi bersama Relawan Aceh Tangguh.
Kini, dengan konektivitas yang mulai stabil dan aliran listrik darurat yang terus disuplai, para dokter dan perawat di RSUD Aceh Tamiang mulai kembali ke pos mereka.
Perjuangan memang belum usai—pendataan alat radiologi dan laboratorium yang rusak masih terus berjalan—namun dibukanya kembali pintu pelayanan kesehatan adalah kemenangan kecil bagi warga.
Sinergi antara pemulihan jaringan digital dan fasilitas medis ini membuktikan bahwa di tengah kepungan bencana, kecepatan kolaborasi adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa.(HM-KKD/*)















