Nisita.info, Tegal – Senin pagi (5/1/2026), bel sekolah berbunyi dengan nada yang terasa sedikit berbeda. Bagi jutaan siswa, suara itu adalah lonceng “perpisahan” dengan bantal, Netflix, dan waktu tidur siang yang tak terbatas.
Ya, hari pertama semester genap telah tiba, membawa serta fenomena unik: semangat yang membara namun masih dibalut sisa-sisa suasana liburan yang lekat.
Pemandangan ini terekam jelas di SMP Al Irsyad, Kota Tegal. Di antara riuhnya seragam biru-putih yang kembali memadati koridor, ada wajah-wajah yang tampak “berperang” dengan diri sendiri.
Salah satunya adalah Muhammad Fairuz, siswa kelas IX A. Dengan jujur, Fairuz mengaku jiwanya masih sedikit tertinggal di masa liburan.
“Pengennya sih masih libur,” aku Fairuz jujur. Namun, meski suasana santai libur panjang masih membekas, ia sadar “medan tempur” kelas IX sudah menanti. Baginya, kenyamanan di sekolah—berkat teman-teman yang suportif dan bimbingan guru untuk ikut OSN—menjadi obat penawar rindu akan kasur di rumah.
Lain Fairuz, lain pula Keisha. Siswi kelas IX D ini punya cara ekstrem untuk mengusir rasa malas: langsung jadi petugas upacara!
Menjadi pembaca doa di hari pertama sekolah adalah tantangan adrenalin yang ampuh membunuh kantuk.
“Karena hari ini aku jadi petugas, aku jadi semangat sekaligus canggung,” curhat Keisha. Persiapan latihan membaca doa selama liburan akhirnya tumpah di lapangan upacara, menjadikannya momentum “kembali ke kenyataan” yang sangat berkesan.
Sementara itu, Azifa memilih jalur “resolusi tahun baru”. Ia masuk kelas dengan misi balas dendam terhadap nilai-nilai semester satu.
“Motivasi aku pengen belajar supaya makin baik,” ujarnya bersemangat. Bagi Azifa, liburan hanyalah tempat jeda untuk kembali lari lebih kencang.
Pihak sekolah rupanya paham betul bahwa memaksa siswa langsung belajar rumus matematika yang rumit di hari pertama adalah ide buruk.
Hilmi Yahya, guru Bahasa Arab di sana, mengungkapkan rahasia agar siswa tidak “kaget”. Sekolah tidak langsung mengisi jadwal dengan kegiatan belajar mengajar yang kaku.
“Ini saatnya me-refresh pemikiran kita,” ujar Hilmi. Melalui motivasi di grup WhatsApp sebelum masuk sekolah hingga kegiatan seru di hari pertama, para guru berusaha mengubah transisi dari “dunia liburan” ke “dunia sekolah” menjadi perjalanan yang menggembirakan.
Kehadiran Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq, di tengah para siswa menambah pesan penting. Ia ingin sekolah menjadi “rumah kedua” yang aman.
Tidak boleh ada kekerasan, perundungan, atau ejekan yang merusak kebahagiaan siswa. Karena di balik rasa malas bangun pagi atau rindu liburan, sekolah harus tetap menjadi tempat yang nyaman untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit.
Jadi, meskipun mata mungkin masih sedikit mengantuk dan hati masih ingin jalan-jalan, para siswa ini membuktikan bahwa kembali ke sekolah bisa menjadi hal yang sangat seru—terutama saat mereka sadar bahwa di sinilah masa depan sebagai pemimpin bangsa dimulai.(BKHM-Kemendikdasmen/*)















