Nisita.info, Samarinda – Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional dan deretan mal modern di Samarinda serta Balikpapan, ada sebuah tren sunyi yang diam-diam menguras dompet warga Benua Etam.
Bukan soal harga beras yang merangkak naik atau tarif angkutan yang melonjak, melainkan biaya untuk menjaga penampilan dan jasa perawatan diri.
Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, inflasi tahunan (year on year) provinsi ini pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,68 persen.
Angka tersebut memang masih di bawah rata-rata nasional, namun jika kita membedah isi “perut” datanya, terdapat satu angka yang melompat sangat tinggi: kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meroket hingga 12,55 persen.
Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang “hanya” naik 4,72 persen, atau sektor pendidikan yang tumbuh 2,80 persen. Artinya, biaya untuk tampil prima kini menjadi beban ekonomi yang jauh lebih berat bagi warga Kaltim ketimbang biaya mengisi perut.
Gaya Hidup atau Kenaikan Biaya Jasa?
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa laju kenaikan harga di tahun 2025 (2,68%) memang relatif lebih cepat dibandingkan tahun 2024 yang hanya berada di angka 1,47 persen.
Namun, lonjakan di sektor perawatan pribadi hingga dua digit mengindikasikan adanya pergeseran pola konsumsi atau kenaikan drastis pada biaya bahan baku dan jasa di sektor kecantikan serta gaya hidup.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Apakah ini dampak dari menjamurnya industri kecantikan, skincare, dan jasa perawatan diri di Kaltim seiring dengan meningkatnya taraf ekonomi sebagai daerah penyangga IKN? Ataukah ini merupakan “pajak penampilan” yang harus dibayar mahal oleh masyarakat demi tuntutan sosial di era digital?
Berau dan Balikpapan di Garis Depan
Secara geografis, Kabupaten Berau mencatat inflasi tertinggi di angka 2,82 persen, disusul Balikpapan (2,71%) dan Samarinda (2,70%).
Tingginya angka di Berau dan dua kota besar di Kaltim ini memperkuat dugaan bahwa distribusi barang-barang perawatan pribadi dan tingginya permintaan jasa di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi menjadi pendorong utama.
Menariknya, di saat kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami penurunan indeks (deflasi) sebesar 1,43 persen, masyarakat tampaknya lebih memilih untuk “merawat diri” daripada “membeli baju baru”.
Strategi konsumsi ini menunjukkan bahwa layanan jasa seperti salon, perawatan kulit, dan kebutuhan personal care lainnya telah bergeser dari kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan yang nyaris primer bagi sebagian warga Kaltim.
Tantangan di Balik Angka
Bagi ekonomi daerah, lonjakan 12,55 persen pada sektor perawatan pribadi ini adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menunjukkan geliat industri kreatif dan jasa yang luar biasa. Di sisi lain, ini menjadi pengingat bagi konsumen untuk lebih bijak dalam mengatur pos pengeluaran di awal tahun 2026.
Saat harga makanan relatif terkendali, biaya untuk menjadi “glowing” ternyata memerlukan anggaran ekstra.
Kini, masyarakat Kaltim dihadapkan pada realitas ekonomi yang unik: menjaga isi piring mungkin lebih mudah daripada menjaga anggaran untuk perawatan diri di tengah gempuran inflasi gaya hidup.(Prb/ty/*)















