Warta Utama

Revitalisasi Pendidikan Tak Bisa Lagi Ditunda

Nisita.info – Pendidikan berkualitas mustahil lahir dari ruang kelas yang rapuh. Di tengah ambisi besar Indonesia mencetak sumber daya manusia unggul, tantangan nyata seringkali terbentur pada hal yang paling mendasar: kelayakan gedung sekolah dan relevansi teknologi. Tanpa sarana yang memadai, kurikulum secanggih apa pun akan kehilangan daya ledaknya.

Menyadari urgensi tersebut, pemerintah mengambil langkah ekstrem melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran. Peresmian revitalisasi di SMK Negeri 7 Medan pada Minggu (4/1) menjadi bukti bahwa wajah sekolah-sekolah kita sedang dipoles besar-besaran agar tidak lagi tertinggal oleh zaman.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 saja, negara telah mengucurkan anggaran sebesar Rp16,9 triliun. Anggaran fantastis ini dialokasikan untuk membenahi 16.171 satuan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia.

Namun, pemerintah tidak berhenti di sana. Memasuki tahun 2026, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, targetnya ditingkatkan secara masif. Dari angka belasan ribu, pemerintah membidik sedikitnya 71.000 satuan pendidikan untuk menerima sentuhan revitalisasi. Ini bukan sekadar renovasi fisik, melainkan upaya memastikan setiap anak Indonesia belajar di ruang yang aman, nyaman, dan bermartabat.

Transformasi ini memiliki pilar kedua yang tak kalah krusial: Digitalisasi Pembelajaran. Pendidikan masa depan tidak lagi dibatasi oleh empat dinding kelas. Di Sumatera Utara sendiri, 17.073 Papan Interaktif Digital (PID) telah didistribusikan dan siap digunakan pada semester genap tahun ajaran ini.

Kehadiran PID di ruang-ruang kelas adalah simbol adaptasi. “Pendidikan berkualitas hanya dapat terwujud dengan dukungan sarana prasarana yang layak serta pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi,” tegas Menteri Mu’ti. Dengan perangkat digital, interaksi antara guru dan murid diharapkan menjadi lebih dinamis, sekaligus mendekatkan para siswa pada realitas industri yang kini serba digital.

Dampak nyata program ini menyentuh aspek yang paling intim dalam keseharian sekolah. Di SDN 067253 Medan Deli, bantuan berbentuk pembangunan toilet higienis—termasuk fasilitas bagi penyandang disabilitas—menjadi simbol rasa syukur. Bagi mereka, kenyamanan dasar adalah pemantik semangat belajar.

Sementara itu, bagi SMKN 7 Medan, kucuran dana revitalisasi senilai Rp3,17 miliar adalah modal utama untuk memperkuat pendidikan vokasi. Dengan sarana yang lebih mumpuni, sekolah siap mencetak lulusan yang tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga kompetensi yang diakui oleh dunia usaha dan industri.

Gerakan besar yang berpusat di Sumatera Utara ini merupakan sinyal bagi wilayah lain, termasuk Kalimantan Timur. Sebagai daerah yang kini menjadi magnet nasional berkat kehadiran IKN, revitalisasi pendidikan di Kaltim menjadi isu yang sangat mendesak. Infrastruktur sekolah di penyangga IKN harus setara dengan standar nasional yang sedang dibangun.

Revitalisasi dan digitalisasi adalah dua rel yang harus berjalan beriringan. Tanpa gedung yang kokoh, teknologi akan sulit terpasang. Sebaliknya, tanpa teknologi, gedung megah hanyalah cangkang kosong. Inilah saatnya sekolah-sekolah kita bertransformasi menjadi ruang yang relevan, memastikan bahwa masa depan Indonesia tidak lagi dihambat oleh dinding-dinding kelas yang kusam.(KPDM/*)

Related Posts

1 of 15