Nisita.info, Padang – Senin pagi (5/1/2026), SMA Negeri 12 Kota Padang seharusnya bersolek cantik menyambut semester genap. Namun, alih-alih koridor yang mengkilap, jejak-jejak banjir besar yang melanda pada akhir November dan awal Januari kemarin masih menyisakan rona kusam.
Di atas lahan seluas 14.000 meter persegi yang sempat terendam lumpur setinggi satu meter lebih, aktivitas pendidikan dimulai kembali dengan sebuah upacara bendera yang emosional.
Kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, di tengah lapangan sekolah menjadi simbol bahwa negara tidak membiarkan para siswa di Sumatra Barat berjuang sendirian di bawah tenda darurat.
Luka fisik SMA Negeri 12 Padang memang cukup dalam. Lebih dari 70 persen mebeler rusak, dan 100 unit komputer yang menjadi jantung laboratorium digital mereka kini tak lagi bisa menyala.
Guru Rahmidayetti mengenang betapa menyesakkan melihat para siswa harus mengikuti ujian semester di dalam tenda darurat dan ruang kelas beralaskan terpal, bahkan ada yang terpaksa menulis tanpa meja.
Namun, semangat siswa justru menjadi penawar lara. “Kami terharu melihat semangat siswa. Mereka tetap mengikuti ujian dalam kondisi apa adanya,” kenang Rahmidayetti.
Hari pertama masuk sekolah ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan pembuktian bahwa cita-cita tidak bisa tenggelam oleh luapan air.
Di sudut kelas, Fajar Aulia Putra, siswa kelas XII yang juga menjadi korban banjir di rumah pribadinya, tak bisa menyembunyikan rasa haru.
Baginya, kembali ke sekolah adalah cara terbaik untuk memulihkan diri, meski sekolahnya belum kembali normal.
“Senang bisa berkumpul lagi, meskipun sedih kondisi sekolah belum seperti dulu. Kami sangat butuh alat kebersihan agar pemulihan bisa lebih cepat,” ungkapnya jujur.
Wamen Atip Latipulhayat, saat meninjau ruang kelas yang masih dalam tahap pembersihan, memberikan pesan penguat. Ia menekankan bahwa musibah ini adalah tantangan untuk menjadi lebih kreatif.
Kemendikdasmen pun telah memetakan Sumatra Barat sebagai salah satu prioritas revitalisasi tahun 2026, dengan sekitar 50 sekolah yang akan dibangun kembali menjadi lebih layak.
Situasi di Padang saat ini adalah potret pembelajaran darurat yang fleksibel. Tidak ada pemaksaan untuk kembali ke ritme normal secara instan. Pembelajaran disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikologis warga sekolah.
Bagi pemerintah, “Pendidikan Bermutu untuk Semua” tetap harus diperjuangkan, sekalipun harus dimulai dari ruang kelas beralaskan terpal dan kursi-kursi yang masih berbekas noda banjir.
Kunjungan ini diakhiri dengan sesi tatap muka virtual antara Wamen Atip di Padang dan Menteri Abdul Mu’ti di Aceh.
Sebuah dialog digital yang menghubungkan dua wilayah terdampak bencana, menegaskan bahwa dari ujung barat Indonesia, pendidikan sedang bersiap untuk bangkit kembali, lebih kuat dari sebelumnya.(BKHM-Kemendikdasmen/*)















