Sobat, puluhan tahun lalu, sebuah ruangan hangat beraroma antiseptik di RSUD I.A Moeis Samarinda kerap menjadi saksi bisu pasrahnya para tenaga medis.
Tangis halus bayi yang lahir prematur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)—bahkan yang berbobot 1,5 kilogram—terdengar bagai hitungan mundur yang memilukan. Tanpa alat inkubator canggih, ventilator khusus bayi, maupun fasilitas pendukung kecukupan oksigen presisi, para dokter dan perawat kala itu hanya bisa mengelus dada, berdoa, dan merawat seadanya sembari menunggu takdir menjemput sang buah hati.
Kenangan emosional dan getir itulah yang mendadak melintas di benak dr. Sri Puji Astuti. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda ini tak mampu menyembunyikan harunya saat menghadiri peresmian Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSUD I.A Moeis, Senin (31/8/2026).
Mantan tenaga medis di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut teringat betapa terbatasnya penanganan medis di masa lalu.
”Dulu waktu saya masih di RSUD I.A Moeis, bayi lahir dengan berat badan 1,5 kilogram saja kita hanya bisa melihat dan menunggu dijemput Sang Pencipta karena keterbatasan alat,” kenang dr. Sri Puji dengan nada bergetar.
Namun, bayang-bayang kelam masa lalu kini telah berganti dengan lentera harapan. Seiring berjalannya waktu dan pesatnya modernisasi fasilitas kesehatan publik, RSUD I.A Moeis mengukir keajaiban medis yang dahulunya mustahil membentang di Samarinda.
Dengan hadirnya Gedung KIA baru yang megah, lengkap dengan teknologi penunjang kehidupan teranyar serta deretan dokter spesialis anak yang mumpuni, rumah sakit ini berhasil mencatatkan rekor penanganan medis ekstrem. Janin yang lahir jauh sebelum waktunya kini memiliki kesempatan kedua untuk bernapas dan mengumandangkan tawa di dunia.
”Sekarang alhamdulillah, bayi BBLR usia di bawah 27 minggu dengan berat badan hanya 700 gram sudah bisa dilayani, dipertahankan hidupnya, dan pasiennya selamat. Ini penanganan yang luar biasa untuk warga Kota Samarinda,” tutur politisi perempuan tersebut bangga.
Kehadiran Gedung KIA yang terpisah dari bangsal pasien dewasa juga menjadi benteng perlindungan strategis. Langkah ini secara signifikan memangkas risiko paparan infeksi silang bagi bayi prematur dan anak-anak yang memiliki sistem imun rentan.
Meski demikian, dr. Sri Puji mengingatkan bahwa lompatan besar pada sarana fisik dan alat kesehatan (alkes) modern harus diimbangi dengan sentuhan manusia yang berkesinambungan. Peningkatan kapasitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para nakes wajib berjalan seiring.
“Alat-alatnya sudah bagus, gedungnya bagus, tentu SDM-nya juga harus terus di-upgrade. Harapan kita, penyakit-penyakit yang menimpa ibu dan anak yang dulu tidak bisa ditangani di sini karena keterbatasan, sekarang semuanya bisa terlayani dengan optimal,” pungkasnya penuh harap.
Kini, setiap detak jantung bayi 700 gram di dalam inkubator RSUD I.A Moeis bukan lagi sekadar keajaiban, melainkan buah manis dari komitmen, teknologi, dan dedikasi panjang untuk menyelamatkan generasi masa depan Samarinda.(Tr/Adv/DPRD Samarinda)















