Bagi seorang guru Pendidikan Anak Usia Diini (PAUD), awal minggu sering kali menjadi waktu yang paling mendebarkan. Di satu sisi, ada tawa riang anak-anak yang menunggu di kelas. Di sisi lain, ada tumpukan lembar administrasi yang menuntut diselesaikan: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), asesmen perkembangan anak, hingga ide-ide alat permainan edukatif (APE) yang harus selalu segar setiap harinya.
Nisita.info – Tak jarang, waktu berharga yang seharusnya bisa digunakan untuk berinteraksi dari hati ke hati dengan anak-anak habis tersedot di depan laptop, menyusun kalimat-kalimat formal kurikulum.
Namun, bayangkan skenario ini: seorang guru duduk di meja kerjanya pada Minggu malam. Ia mengetik satu kalimat pendek di layar ponselnya: “Buatkan saya ide proyek bermain bertema lingkungan untuk anak usia 4-5 tahun yang memanfaatkan botol plastik bekas.”
Dalam hitungan detik, layar ponselnya memuntahkan modul ajar lengkap—mulai dari tujuan pembelajaran, langkah-langkah eksperimen sains sederhana, hingga aspek perkembangan yang disasar. Mengagumkan, bukan? Berkat kemudahan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, proses perencanaan pembelajaran yang biasanya memakan waktu berjam-jam kini bisa diringkas menjadi hitungan menit.
Manfaat AI untuk PAUD sejatinya bukan untuk menggantikan peran bapak dan ibu guru dengan robot pintar. Sebaliknya, teknologi ini hadir sebagai “asisten pribadi digital” yang bertugas mengambil alih pekerjaan-pekerjaan repetitif dan administratif.
Ketika beban menyusun administrasi pendidikan diringkas oleh AI, guru mendapatkan kembali hal paling berharga dalam dunia pendidikan anak usia dini: waktu dan energi psikologis.
Anak usia dini tidak belajar dari algoritma; mereka belajar dari kehangatan. Mereka membutuhkan tatapan mata yang fokus, pelukan saat mereka menangis karena berebut mainan, dan kehadiran utuh seorang pendidik saat mereka berhasil menyusun balok pertama mereka. Dengan berbantuan AI, guru tidak lagi kelelahan di ruang kelas hanya karena semalaman begadang menyusun modul ajar.
Selain mempermudah administrasi, kegunaan AI dalam dunia PAUD juga merambah ke wilayah kreativitas tanpa batas. Melalui platform generator teks dan gambar berbasis AI, guru dapat dengan mudah merancang:
-
Dongeng Personalisasi: Membuat cerita pendek di mana tokoh utamanya menggunakan nama anak-anak di kelas, lengkap dengan pesan moral yang sedang ingin diajarkan minggu itu.
-
Media Belajar Visual: Mengubah coretan ide sederhana menjadi lembar mewarnai atau kartu pintar (flashcard) yang unik dan belum pernah ada di pasar.
-
Diferensiasi Pembelajaran: Menyusun metode bermain yang berbeda untuk anak yang aktif bergerak (kinestetik) dan anak yang lebih suka mengamati (visual) dalam satu tema yang sama.
Kesadaran akan pentingnya melompat bersama teknologi inilah yang melatarbelakangi sebuah langkah penting di Samarinda baru-baru ini. Menghadapi perkembangan zaman, Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perempuan Pendidikan Anak Usia Diini (DPD PP-PAUD) Provinsi Kalimantan Timur bergerak cepat memperkuat kapasitas para pendidik di Benua Etam.
Mengutip laman kaltimprov.go.id Pada Jumat, 23 Mei 2026, DPD PP-PAUD Kaltim resmi menggelar Pelatihan Teknologi Mahir Artificial Intelligence (AI) bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (Tendik) PAUD di Samarinda. Langkah ini menjadi momentum strategis agar para pengajar tidak sekadar menjadi penonton di era disrupsi digital.
“Perembangan teknologi AI telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Tenaga pendidik perlu memahami serta mampu memanfaatkannya secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujar Ketua DPD PP-PAUD Provinsi Kalimantan Timur, Andi Srianti Ishak, dalam sambutannya saat membuka acara.
Andi Srianti menambahkan bahwa AI harus dilihat sebagai sarana pendukung yang kuat. Mulai dari penyusunan media belajar, pengisian administrasi pendidikan, hingga merumuskan metode pembelajaran yang lebih interaktif agar anak-anak tidak bosan.
Ia berharap, sepulang dari pelatihan ini, para guru tidak hanya membawa pulang teori. “Saya berharap guru dan tendik mampu mengaplikasikannya langsung untuk meningkatkan kreativitas dalam mendampingi anak-anak usia dini,” tegasnya.
Pelatihan yang menghadirkan pakar pendidikan Dr. Mohammad Salehudin, S.Pd.I., M.Pd. sebagai narasumber ini, dihadiri oleh puluhan guru dan tendik PAUD dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Mereka berkumpul dengan satu misi: belajar menjinakkan teknologi demi mutu pendidikan yang lebih baik.
Membicarakan AI pada pendidikan anak usia dini tentu memicu perdebatan lain: apakah aman mendekatkan teknologi canggih ini pada anak-anak yang dasarnya masih membutuhkan stimulasi motorik dan sensorik kasar?
Di sinilah letak kebijaksanaan yang digaungkan dalam pelatihan tersebut. AI yang digunakan dalam konteks PAUD adalah AI di tangan guru (Teacher-Facing AI), bukan perangkat yang diberikan langsung untuk mengalihkan perhatian anak (child-facing screen time). AI bertindak di balik layar, memperkaya isi kepala dan kotak alat peraga sang guru.
Pendidikan anak usia dini adalah fondasi utama dari seluruh jenjang kehidupan manusia. Mengubah cara guru mengajar dengan bantuan teknologi adalah kunci untuk mewujudkan layanan pendidikan yang berkualitas dan adaptif terhadap zaman.
Melalui ruang kolaborasi seperti yang diinisiasi oleh DPD PP-PAUD Kaltim, transformasi digital di sekolah-sekolah instansi anak usia dini bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan. Ketika teknologi berhasil meringankan dokumen di atas meja, di situlah guru memiliki ruang lebih luas untuk membentuk karakter manusia di dalam kelas. (Hmd/*)















