Di dahan tertinggi pohon mahoni yang tumbuh di halaman sebuah sekolah di tengah kota, tinggallah Atung. Ia adalah seekor burung gereja muda dengan bulu cokelat cerah dan mata yang selalu berbinar bulat.
RUMAH Atung sangat strategis. Setiap hari, dari balik rimbunnya dedaunan, ia bisa mendengarkan riuhnya suara anak-anak sekolah yang sedang belajar, tertawa, atau bermain peluit saat pelajaran olahraga.
Namun, belakangan ini, binar di mata Atung meredup. Ia lebih banyak duduk meringkuk di sudut dahan, menyembunyikan paruhnya di balik sayap. Atung sedang patah hati karena sebuah kegagalan besar.
Beberapa hari lalu, komunitas burung gereja di sekolah itu mengadakan tradisi tahunan: Ujian Terbang Melintasi Lapangan Upacara.
Semua burung muda wajib ikut. Atung sudah bersiap sejak lama. Ia sudah membayangkan betapa kerennya ia saat melesat mulus di atas tiang bendera, disaksikan oleh teman-temannya.
Nahas, saat giliran Atung tiba, badai angin dari arah kantin sekolah berembus kencang. Atung panik. Kepakan sayapnya mendadak tidak beraturan. Alih-alih mendarat elegan di seberang lapangan, Atung justru hilang kendali dan jatuh terhempas ke dalam tong sampah kosong di pojok lapangan.
Teman-temannya lolos dengan sorak-sorai, sementara Atung dievakuasi dengan tubuh penuh debu dan rasa malu yang luar biasa. Ia dinyatakan gagal.
“Aku adalah burung gereja paling bodoh. Sayapku lemah. Aku tidak akan pernah bisa terbang hebat seperti yang lain,” bisik Atung lirih pada malam setelah ujian, air matanya menetes membasahi ranting pohon.
Saat Atung sedang merenung sedih di dahan bawah yang dekat dengan jendela ruang kelas, ia mendengar suara berat dan dalam dari arah bawah.
“Hei, anak muda. Mengapa wajahmu sekusam langit mendung?”
Atung menunduk. Ternyata yang berbicara adalah Julak Sul, sepasang sepatu hitam tua milik Pak Penjaga Sekolah yang sedang dijemur di atas pagar pembatas.
Julak Sul sudah robek di beberapa bagian, warnanya memudar, dan sol bawahnya hampir lepas. Namun, ia telah menjelajahi setiap sudut sekolah itu selama bertahun-tahun.
Atung pun mencurahkan seluruh isi hatinya. Tentang ujian yang gagal, tentang tong sampah, dan tentang rasa malunya karena merasa tidak berbakat.
Julak Suy terkekeh pelan, membuat talinya bergoyang ditiup angin.
“Atung, lihatlah aku. Apakah aku terlihat seperti sepatu baru yang mengkilap di etalase toko? Tidak. Aku penuh jahitan dan koyak. Aku sudah ribuan kali tersandung batu, menginjak kubangan lumpur, bahkan gagal menahan tali hingga membuat Pak Penjaga Sekolah terjatuh.”
Julak Suy terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi apakah kegagalan-kegagalan itu membuatku berhenti melangkah? Tidak. Setiap kali robek, aku dijahit kembali untuk menjadi lebih kuat. Kegagalanmu kemarin bukan berarti sayapmu cacat, Atung. Itu hanya tanda bahwa sayapmu sedang ‘dijahit’ oleh pengalaman agar lebih kuat menghadapi angin berikutnya.”
Nasihat Julak Suy perlahan merayap masuk ke dalam hati Atung. Benar juga, pikirnya. Menangis terus-menerus tidak akan membuat sayapnya mengepak sendiri.
Esok harinya, saat sekolah sepi karena para murid sedang menikmati masa libur pasca-ujian, Atung mulai berlatih lagi.
Ia tidak langsung memaksa terbang tinggi melintasi lapangan upacara yang luas. Mengikuti saran Julak Suy, Atung memanfaatkan keunggulan tubuhnya yang kecil.
Ia berlatih bermanuver di sela-sela pagar sekolah, belajar mengerem mendadak di atas bingkai jendela kelas, dan melatih kekuatan sayapnya dengan melawan angin kecil yang berembus di antara lorong-lorong gedung sekolah.
Atung jatuh berkali-kali? Tentu saja. Kadang ia menabrak kaca jendela, kadang tergelincir di ubin koridor. Tapi setiap kali jatuh, Atung teringat kata-kata Julak Suy: Sayapku sedang dijahit menjadi lebih kuat.
Hingga suatu siang, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Seekor anak kucing sekolah yang nakal melompat ke dalam ruang guru melalui ventilasi atas dan tidak sengaja menyenggol vas bunga kaca di meja utama hingga pecah.
Burung-burung gereja dewasa yang berada di dahan luar panik. Mereka ingin masuk untuk melihat situasi, tetapi tubuh dan bentangan sayap mereka terlalu besar untuk melewati terali jendela ruang guru yang sempit dan rapat.
Melihat hal itu, Atung tahu inilah waktunya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengepakkan sayap cokelatnya, dan melesat.
Dengan kelincahan hasil latihan mandirinya di sela-sela bangunan, Atung dengan sangat mulus terbang meliuk-liuk melewati celah terali jendela yang sempit, bermanuver di antara lemari-lemari buku yang tinggi, lalu membuat gerakan mengepak cepat untuk mengusir anak kucing itu keluar lewat pintu belakang yang terbuka.
Dari luar jendela, seluruh komunitas burung gereja menyaksikan aksi memukau Atung dengan mulut terperangah.
Mereka tidak menyangka, burung kecil yang dulu jatuh ke tong sampah kini bisa terbang se-akrobatik itu di ruang yang sangat sempit.
Sore itu, Atung kembali bertengger di dekat Julak Suy dengan dada membusung bangga. Teman-temannya bergantian memberikan pujian.
Atung memang tidak memenangkan piala terbang tertinggi di lapangan upacara, tetapi ia berhasil menemukan “rute terbangnya sendiri” yang tidak bisa dilakukan oleh burung lain.
Untuk kamu, Sobat Nisita yang mungkin saat ini sedang merasa sedih karena hasil ujian yang kurang memuaskan, kalah dalam perlombaan, atau merasa gagal dalam suatu hal: ingatlah kisah Atung.
Kegagalan hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Itu hanyalah cara hidup mengajarimu untuk berhenti sejenak, mengevaluasi arah angin, dan melatih sayapmu agar bisa terbang lebih tinggi dengan caramu sendiri yang unik. Jangan menyerah, ya! (*/)















