Nisita.info — Di tengah hiruk-pikuk disrupsi digital, sebuah revolusi senyap sedang terjadi di dunia pustaka kita. Bayangkan sebuah dunia di mana buku digital tidak bisa dibajak, penulis menerima royalti secara otomatis dan transparan, serta perpustakaan memiliki kedaulatan penuh atas koleksi aset digitalnya.
Visi masa depan inilah yang membawa Libere, sebuah proyek infrastruktur Web3 garapan talenta muda Bandung, naik ke panggung tertinggi sebagai Juara Infinity Hackathon 2025.
Penghargaan ini bukan sekadar piala biasa; ia adalah pengakuan bahwa teknologi blockchain kini telah menemukan jiwa kemanusiaannya dalam bentuk akses pengetahuan yang adil.
Dua otak di balik inovasi ini, Erdy Suryadarma dan M. Ridho Izzulhaq, berhasil membuktikan bahwa teknologi on-chain bukan hanya soal mata uang kripto.
Libere hadir sebagai solusi konkret atas benang kusut distribusi buku digital. Dengan memanfaatkan Non-Fungible Token (NFT) untuk mengelola kepemilikan, setiap buku yang dipinjam atau dibeli tercatat secara permanen dan akuntabel.
Dilansir ekraf.go.id, Selasa (30/12/2025) Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang menyerahkan langsung penghargaan tersebut, memuji Libere sebagai bukti bahwa talenta digital Indonesia mampu menghadirkan solusi global yang sangat relevan dengan kebutuhan publik nasional.
Kekuatan utama Libere terletak pada sistem royalti yang terprogram. Melalui infrastruktur ini, hambatan klasik seperti laporan penjualan yang tidak transparan atau kebocoran distribusi akibat pembajakan dapat dipangkas habis.
Bahkan, Libere telah melangkah jauh dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pemkot Bandung sebagai proyek percontohan.
Sinergi ini menciptakan ekosistem di mana penerbit merasa aman, perpustakaan merasa berdaya, dan pembaca mendapatkan akses pengetahuan yang legal namun tetap modern.
Kini, nama Libere mulai menggema di kancah Asia. Terpilih sebagai salah satu dari hanya 20 builder terbaik di Protocol Camp 2025, Erdy dan Ridho siap membawa nama Indonesia ke Tokyo pada Januari 2026.
Prestasi ini menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing, melainkan produsen infrastruktur budaya digital yang disegani.
Libere adalah pesan kuat bahwa di era Web3, literasi bukan hanya soal membaca, tapi soal membangun sistem yang adil dan berkelanjutan bagi mereka yang menghidupkan kata-kata.(ekraf/*)















