Olahraga Masyarakat

Layang-Layang di Langit Temindung Bukan Lagi Sekadar Permainan, Tapi Kebanggaan

Nisita.info – Matahari di atas Kota Samarinda sedang terik-teriknya, Minggu (8/2/2026). Angin bertiup cukup konsisten, membawa hawa panas namun sekaligus menjadi napas bagi ratusan “sayap” warna-warni yang menari di angkasa.

Di bawah langit cerah Benua Etam, puluhan orang mendongak, jemari mereka menari lincah memainkan benang, sementara mata mereka fokus mengunci gerakan lawan di ketinggian 50 meter.

Lokasinya bukan lagi tanah lapang biasa, melainkan landasan pacu eks Bandara Temindung Samarinda. Tempat yang dulu menjadi saksi bisu lepas landasnya pesawat, kini bertransformasi menjadi arena “pertempuran” udara yang elegan dalam gelaran Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Layang-Layang.

Bagi banyak warga Samarinda, bermain layang-layang adalah memori masa kecil tentang mengejar angin di pematang sawah atau jalanan kompleks. Namun, di bawah naungan Persatuan Layang-Layang Seluruh Indonesia (Pelangi) Kalimantan Timur dan KORMI, permainan tradisional ini telah naik kelas menjadi olahraga rekreasi penuh prestasi.

Tercatat 96 peserta dari berbagai penjuru tanah air—mulai dari Balikpapan, Sangatta, hingga delegasi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah—berkumpul untuk membuktikan siapa yang paling piawai melakukan freestyle (gaya bebas). Aturannya sederhana namun memacu adrenalin: sekali layangan sobek atau menyentuh rumput, petualangan di angkasa berakhir alias gugur.

“Ke depan, kami berencana mengadakan pemecahan Rekor MURI dengan menaikkan sekitar 3.000 layang-layang secara serentak,” ujar Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Muhammad Faisal, saat menyerahkan piala di hari terakhir kejuaraan. Kalimat ini menjadi angin segar bagi para pegiat layang-layang bahwa olahraga ini mulai dipandang serius oleh pemerintah.

Di balik keseruan kompetisi dengan total hadiah Rp20 juta tersebut, ada misi sosial yang lebih mendalam. Ketua Pelangi Kaltim, Alwi H, menyoroti bagaimana langit biru dan sinar matahari bisa menjadi alternatif terbaik bagi generasi muda yang kini mulai “terpenjara” oleh layar gawai (gadget).

“Kami ingin menggaet anak-anak sekolah agar bermain layangan bisa menjadi cara efektif mengurangi ketergantungan pada gadget. Ini olahraga sehat, dilakukan di bawah sinar matahari dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore,” tutur Alwi.

Bermain layang-layang mengajarkan kesabaran, strategi, dan kepekaan terhadap alam. Para pemain muda kini punya alasan baru untuk keluar rumah: bukan sekadar untuk bermain, tapi untuk berlatih demi mewakili Kaltim di ajang FORNAS mendatang.

Saat matahari mulai condong ke barat dan satu per satu layangan ditarik turun, tersisa satu harapan besar. Alwi berharap pemerintah memberikan dukungan lebih nyata bagi para atlet layang-layang agar prestasi Kaltim terus meningkat.

Hari itu, eks Bandara Temindung tidak hanya memberikan piala kepada pemenang, tetapi juga memberikan pembuktian bahwa dengan angin yang tepat dan tekad yang kuat, sesuatu yang dianggap tradisional bisa terbang tinggi membawa nama harum daerah di tingkat nasional.

Langit Samarinda sore itu perlahan kembali kosong, namun semangat para pelayang sudah telanjur terbang tinggi, bersiap untuk kepakan yang lebih besar di turnamen berikutnya.(Prb/ty/*)

Related Posts

1 of 5