Pendidikan

ART-MATIKS: Ketika Rumus Geometri dan AI Tandai Wajah Baru Batik Sidoarjo

Halo, Sobat Nisita! Siapa sangka, deretan rumus matematika yang kerap dianggap rumit dan kaku justru bisa menjelma menjadi lembaran motif batik yang estetis? Di tangan para murid SMAN 1 Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, rumus transformasi geometri tak lagi sekadar guratan kapur di papan tulis, melainkan muasabab lahirnya inovasi bertajuk ART-MATIKS (Aplikasi Redesain & Transformasi Matematika Batik Sidoarjo).

Melalui Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 870/sipers/A6/X/2026, karya kreatif berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ini menjadi bintang utama dalam peringatan Bulan Bahasa di sekolah tersebut. Sebuah pembuktian bahwa literasi, penguasaan teknologi digital, dan pelestarian kearifan lokal mampu berjalan berkelindan secara harmonis.

Menjembatani Geometri dan Kecerdasan Buatan

ART-MATIKS lahir dari ketekunan murid-murid kelas XI di bawah bimbingan guru Ika Yunita. Konsep dasar yang mereka gunakan adalah transformasi geometri—meliputi dilatasi, refleksi, rotasi, hingga translasi. Rumus-rumus ini menjadi fondasi awal struktur motif batik khas Sidoarjo.

Namun, anak-anak muda ini tak berhenti pada rumus dasar. Mereka melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mengeksplorasi dan memperkaya hasil desain.

Elfaretha Shifa, salah satu murid kelas XI yang terlibat langsung dalam proyek ini, menceritakan proses kreatif di balik lahirnya motif-motif cantik tersebut.

“Mulai dari dilatasi, refleksi, rotasi, dan translasi. Nah, kemudian dari rumus-rumus tersebut, kita membuat sebuah rancangan motif menggunakan prompt AI untuk mengaplikasikan dan mengembangkannya menjadi lebih bagus lagi hingga menghasilkan sebuah karya,” tutur Shifa saat mempresentasikan karyanya.

Hasil redesain bernuansa futuristik namun tetap berakar pada tradisi itu tak hanya berhenti di atas kain. Desain ART-MATIKS diaplikasikan ke berbagai media fungsional sehari-hari, seperti botol minum, gantungan kunci, kipas, pajangan, hingga busana modern. Bagi Shifa dan rekan-rekannya, proyek ini adalah cara keren bagi generasi muda Sidoarjo untuk menjaga kekayaan budaya daerah mereka agar tidak tergerus zaman.

Bahasa, Teknologi, dan Kedaulatan Bangsa

Perpaduan antara perayaan Bulan Bahasa dan gelar karya berbasis STEM ini sejalan dengan pandangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Saat berada di Jawa Timur pada Senin (12/10/2026), ia menegaskan bahwa bahasa dan literasi memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar alat bertukar pesan.

“Kalau berbicara mengenai bahasa, kita tidak hanya berbicara mengenai bahasa sebagai alat komunikasi, tapi bahasa sebagai identitas bangsa dan juga bahasa sebagai kedaulatan,” tegas Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Kepala SMAN 1 Taman, Dewi Nurmalasari, menambahkan bahwa pembelajaran kokurikuler seperti proyek ART-MATIKS sengaja dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, mandiri, serta keterampilan berkolaborasi dan berkomunikasi pada diri murid.

Melalui ART-MATIKS, SMAN 1 Taman membuktikan bahwa semangat Bulan Bahasa dapat dirayakan secara inklusif. Di sini, narasi bahasa daerah dan budaya lokal tidak hanya dirawat lewat tutur kata, tetapi juga dihidupkan kembali melalui algoritma dan kecerdasan buatan. (Nisita/Siaran Pers Kemendikdasmen No: 870/sipers/A6/X/2026)

Related Posts

1 of 13