Pendidikan

Kemendikdasmen Kirim 5,5 Juta Buku ke Pelosok Negeri 

Halo Sobat Nisita! Ada kabar gembira dan penuh harapan bagi dunia pendidikan kita. Pada Kamis (31/7/2026), jutaan eksemplar buku bacaan mulai diberangkatkan dari Kudus, Jawa Tengah, menuju berbagai penjuru Nusantara.

Dus-dus berisi buku ini bukan sekadar lembaran kertas biasa, melainkan simpul harapan agar anak-anak di seluruh Indonesia—khususnya di pelosok daerah—dapat menikmati bacaan yang seru, berkualitas, dan menumbuhkan minat membaca sejak dini.

Langkah masif ini ditandai dengan pelepasan resmi 5.538.300 eksemplar buku oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Buku-buku ini siap didistribusikan ke 18.444 SD dan 6.165 SMP yang tersebar di 510 kabupaten/kota pada 38 provinsi. Dalam kacamata sosiologi pendidikan, distribusi ini bukan sekadar program rutin, melainkan upaya konkret mewujudkan Keadilan Spasial (Spatial Justice) agar akses terhadap sumber belajar tidak lagi menumpuk di perkotaan.

Prioritas bagi Sekolah yang Paling Membutuhkan

Menariknya nih Sobat Nisita, pengiriman jutaan buku beranggaran lebih dari Rp40,6 miliar ini tidak dilakukan secara acak. Sekolah yang menjadi sasaran utama adalah mereka yang berdasarkan Asesmen Nasional 2025 skor literasinya masih di bawah kompetensi minimum dan belum pernah mendapat bantuan serupa. Ini merupakan bentuk affirmative policy agar intervensi pendidikan tepat sasaran pada sekolah yang paling membutuhkan dukungan.

Agar anak-anak semakin gemar membaca, format buku yang disajikan pun sangat adaptif dan menarik. Untuk jenjang SD disediakan buku bergambar, sementara untuk siswa SMP disiapkan komik dan novelet cerita. Bahkan, paket buku juga mencakup format digital, audio, video, hingga buku braille agar inklusivitas pendidikan benar-benar merangkul anak-anak berkebutuhan khusus.

“Membangun generasi unggul ditempuh melalui tiga langkah: menumbuhkan kebiasaan membaca (book engagement), membangun kecakapan membaca, serta menjaga ketercukupan bahan bacaan bermutu.” — Abdul Mu’ti, Mendikdasmen RI.

Dampak Nyata pada Peningkatan Literasi

Upaya pemerataan bacaan ini bukanlah proyek tanpa landasan. Data memperlihatkan bahwa hingga tahun 2026, Kemendikdasmen telah mengalirkan lebih dari 42 juta eksemplar buku ke seluruh Indonesia. Kajian dari Pusat Standar Kebijakan Pendidikan (PSKP) pun membuktikan bahwa sekolah-sekolah yang menerima bantuan buku mengalami lonjakan capaian literasi yang jauh lebih baik dibanding sekolah yang belum menerima bantuan.

Hasil riset ini menguatkan teori Modal Budaya (Cultural Capital): ketika fasilitas dan sarana bacaan bermutu dihadirkan di ruang belajar anak-anak, keterbatasan lingkungan fisik dapat terimbangi oleh tumbuhnya wawasan, kosa kata, dan daya kritis mereka.

Membangun Sumber Daya Berdaya Saing dari Pelosok

Kerja besar ini tentu tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari konsorsium percetakan hingga armada ekspedisi pengiriman. Seperti yang diutarakan Direktur Utama PT Pura Barutama, Bambang Handoko, membaca adalah fondasi paling dasar dalam mencetak sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing.

Sobat Nisita, hadirnya buku-buku baru di meja-meja kelas sekolah pelosok—seperti halnya di tepian sungai atau kawasan rawa—adalah amunisi baru bagi anak-anak untuk berani bermimpi lebih tinggi. Semoga jutaan buku yang tengah berlayar dan melintasi daratan ini dapat menyalakan api literasi di seluruh pelosok Nusantara! (*/Kemendikdasmen)

Related Posts

1 of 13