Nisita.info – Halomiyu, karakter Intellectual Property (IP) lokal yang menggemaskan, tampak mencuri perhatian di tengah riuh rendah perayaan Tahun Baru Lunar di Lapangan Banteng, Jakarta.
Kehadirannya bukan sekadar penghias visual, melainkan jembatan kreatif yang mengubah wajah kaku “cek kesehatan” menjadi pengalaman yang ramah dan menyenangkan bagi pengunjung Festival Imlek Nasional 2026.
Kolaborasi apik antara Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Kesehatan, dan IP lokal halomiyu ini menjadi bukti bahwa edukasi publik—terutama soal kesehatan—kini telah bermetamorfosis menjadi lebih “bernyawa” dan dekat dengan hati masyarakat.

Lebih dari Sekadar Perayaan Tradisi
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang meninjau langsung area Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Senin (23/2/2026), menegaskan bahwa kreativitas adalah kunci untuk memperluas jangkauan pesan pemerintah.
“Kolaborasi antar kementerian dengan IP lokal menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan efektif untuk edukasi kesehatan. Dengan menggandeng halomiyu, pesan kesehatan dapat dikemas lebih ramah dan dekat sehingga lebih mudah diterima,” ujar Irene Umar dengan antusias.
Di bawah payung Festival Imlek Nasional, kesehatan ditempatkan sebagai pilar produktivitas. Pengunjung tidak hanya disuguhi parade budaya atau kuliner lezat, tetapi juga diajak untuk peduli pada diri sendiri melalui deteksi dini mulai dari tensi, gula darah, hepatitis, hingga skrining kanker payudara.
Target Besar: 136 Juta Penerima Manfaat
Bagi Irene, cek kesehatan adalah bentuk kasih sayang untuk keluarga. “Cek kesehatan perlu dilakukan oleh semua orang, termasuk yang sehat. Deteksi dini membuat kita tetap produktif menjaga keluarga yang bergantung pada kita,” tuturnya.
Pemerintah memang tidak main-main. Di tahun 2026 ini, target besar dicanangkan: 136 juta penduduk Indonesia diharapkan dapat menikmati layanan kesehatan gratis yang mudah diakses, termasuk melalui event-event kreatif seperti festival budaya ini.

Harmoni dalam Keberagaman
Festival Imlek Nasional 2026 sendiri hadir bukan sekadar perayaan masyarakat Tionghoa, melainkan ruang temu lintas etnis dan budaya. Lapangan Banteng bertransformasi menjadi museum terbuka yang memotret akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia melalui seni dan tradisi.
Di antara aroma kuliner khas dan gemuruh suara bedug, halomiyu berdiri sebagai pengingat lembut di sudut festival: bahwa di balik semangat harmoni dan persatuan bangsa, raga yang sehat adalah modal utama untuk terus merayakan keberagaman.
Festival ini akan terus berlangsung hingga 1 Maret 2026. Sebuah undangan terbuka bagi warga untuk merayakan tradisi, mencicipi kuliner, sekaligus memberikan “hadiah” terbaik bagi tubuh lewat cek kesehatan gratis.(KIF-Ekraf/*)















