Budaya

Mengenal Serebu Dayak dari Serutan Kayu Ampang

“Negara kita memiliki banyak budaya. Ini salah satu budaya yang ada di Indonesia yang harus dilestarikan untuk anak bangsa.” – Esrom Palan, Ketua Adat Desa Pampang.

Sobat Nisita, biasanya saat suatu event besar diselenggarakan, puluhan bahkan ratusan umbul-umbul menghias tepi jalan menuju tempat acara. Kain panjang yang diikat pada batang bambu itu menjadi penanda bahwa akan atau sedang ada acara diselenggarakan.

Tapi, pada Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 tanggal 25 sampai dengan 28 Juni nanti, fungsi tersebut akan diperankan Serebu Dayak. Serutan batang kayu ini nantinya akan menghiasi jalan-jalan, khususnya di Kelurahan Desa Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda.

Di bawah naungan atap selasar yang teduh, deru halus pisau beradu dengan kayu. Sentuhan ini terdengar ritmis. Beberapa tetua dan warga berkumpul dengan penuh konsentrasi. Di tangan mereka, sebilah kayu ampang perlahan-lahan dikupas. Lalu diserut.

“Ini namanya Serebu Dayak,” ujar Peding Ajan. Ia menjelaskan bahwa serutan spiral dari kayu ampang ini merupakan ornamen untuk festival adat Dayak Kenyah beberapa hari ke depan.

Kayu ampang yang sudah dikuliti sedang diserut secara presisi dengan pisau kecil. Foto: Nisita

Tekniknya membutuhkan kesabaran tinggi, serutan harus tipis, panjang, dan membentuk gulungan spiral yang rapi tanpa terputus. Jika sudah terkumpul, helaian mirip rambut ikal ini diikat berjejer untuk dikeringkan.

“Nanti, Serebu ini akan kami ikat di tiang-tiang bambu. Ujung serutannya akan diberi warna merah. Bagi kami, pemasangan Serebu ini bukan sekadar hiasan atau dekorasi biasa, melainkan sebuah penanda kuat bahwa tanah ini sedang bersiap menyambut acara besar,” lanjutnya.

Nuansa gotong royong pembuatan Serebu ini sejalan dengan denyut nadi persiapan di Desa Budaya Pampang. Menjelang festival yang tinggal menghitung hari, seluruh elemen masyarakat bahu-bahu mematangkan sarana pendukung.(Tr)

Related Posts

1 of 5