Budaya

Disdikbud Samarinda Gelar Diskusi untuk Legalisasi Legenda Lokal

Nisita.info – Kekayaan legenda, kekhasan lokal, dan nilai-nilai luhur Kota Samarinda kini berada dalam risiko serius: terancam hilang dan hanya menjadi cerita lisan belaka tanpa pengakuan resmi.

Plt. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Wahiduddin, menekankan urgensi ini dalam Diskusi Terpumpun Penulisan Karya Budaya Kota Samarinda tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda.

Wahiduddin mencontohkan beberapa kekhasan lokal seperti penamaan Gunung Steleng dan Gunung Menangis yang berisiko tinggi hilang tanpa dokumentasi formal. Ia menegaskan, pelestarian tidak dapat bergantung hanya pada tradisi lisan.

“Budaya hanya menjadi cerita dan bersambung lidah saja jika tidak ditulis dan dilegalkan dengan pengakuan resmi,” lanjut Wahiduddin.

Oleh karena itu, Disdikbud Samarinda mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan diskusi ini untuk memfasilitasi dokumentasi resmi lima karya budaya dan legenda lokal, guna memastikan eksistensi dan pelestariannya di tengah masyarakat modern.

Wahiduddin juga menyoroti perubahan pola interaksi dalam keluarga modern yang berdampak pada transfer nilai-nilai luhur ke generasi muda.

“Orang jaman dulu sering dan senang bercerita kepada anaknya termasuk legenda dan sejarah, berbeda dengan orang sekarang yang kurang interaksi bercerita/berdongeng dengan anaknya. Maka penulisan cerita dan budaya salah satu upaya mempertahankan nilai-nilai lokal,” paparnya.

Diskusi yang dihadiri oleh Pamong Budaya Balai Pelestarian Budaya Provinsi Kaltim, Disdik Kaltim, serta para maestro dan penulis lokal, secara spesifik membahas lima karya, antara lain:

  1. Legenda Ular Lembu di Sungai Mahakam
  2. Keminting Kue Tradisional Khas Samarinda
  3. Legenda Keramat Sungai Kerbau Samarinda
  4. Legenda Kerajaan Buaya Karang Mumus
  5. Sandima Seni Teater Tradisional Khas Samarinda

Diharapkan, dengan kolaborasi antara pemerintah, penulis, dan maestro ini, masukan positif dapat diperoleh untuk pengakuan resmi dan keberlanjutan kebudayaan Samarinda di masa depan.(*/ASYA/KMF-SMR)

Related Posts

1 of 5