Uncategorized

Cemas Warga Simpang Tiga di Bawah Bayang-Bayang Kabel Maut

Nisita.info, Samarinda – Bayangkan setiap kali hujan deras turun atau angin kencang berembus, pandangan Anda harus tertuju ke langit-langit rumah. Bukan karena khawatir atap bocor, melainkan takut melihat percikan api keluar dari kabel tegangan tinggi yang melintang persis di atas seng.

Ketakutan mencekam itulah yang menjadi menu sehari-hari warga di wilayah RT 04 Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda. Di kawasan permukiman padat yang berdiri di atas kontur jalan menanjak dan sempit ini, bahaya seolah bergelayut tepat di atas kepala mereka.

Warga bukannya tinggal diam. Di beberapa sudut, terlihat pipa paralon putih membungkus kabel-kabel hitam tebal itu—sebuah ikhtiar darurat yang diikat seadanya dengan karet oleh warga setempat. Pipa itu menjadi satu-satunya pembatas rapuh antara arus listrik bermuatan besar dan atap rumah yang mudah menghantarkan panas.

Setahun Janji yang Menggantung

Marhen Payunglangi, Ketua RT 04 Simpang Tiga saat ditemui awak media. Foto: Nisita

Bagi Marhen Payunglangi, Ketua RT 04 Simpang Tiga, kondisi ini adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Sudah tak terhitung berapa kali ia menenangkan warganya yang panik saat melihat kabel induk PLN di samping Gereja Toraja “melejak-lejak” mengeluarkan bunga api akibat korsleting.

“Kurang lebih sudah setahun kami mengadukan persoalan ini,” tutur Marhen saat ditemui di kediamannya, Selasa (16/6/2026).

Marhen mengingat kembali secercah harapan yang sempat muncul ketika petugas PLN datang ke lokasinya beberapa waktu lalu. Saat itu, petugas sepakat bahwa solusinya adalah pengalihan jalur kabel dengan menanam dua tiang listrik baru agar tidak lagi membelah atap permukiman warga. Namun, hingga lembar kalender berganti ke pertengahan tahun 2026, janji tinggal janji. Tiang yang dinanti tak kunjung tiba.

Padahal, secara administrasi, surat resmi bernomor 001/RT.04/Kel.ST/02/2025 sudah dilayangkan ke Kepala Kantor PLN Loa Janan sejak 10 Februari 2025 silam. Di dalam surat itu, Marhen tidak hanya mengeluhkan ruang sempit antara kabel dan atap, tetapi juga melaporkan adanya kabel induk yang melintang ekstrem di lantai dua rumah warga, hingga membuat pemiliknya tak bisa melanjutkan pembangunan karena bertaruh nyawa.

“Harusnya dipasang tiang lagi dan jalurnya dibelokkan supaya tidak melintas di atas atap rumah warga. Kalau dibiarkan terus, risikonya besar,” tegas Marhen dengan nada getir.

Trauma warga RT 04 bukan tanpa alasan. Wilayah ini sudah dua kali luluh lantak oleh amukan si jago merah yang diduga kuat bermula dari masalah jaringan listrik. Ironisnya, jika musibah itu kembali berulang, urusannya bisa jauh lebih fatal. Akses jalan yang sempit dan menanjak membuat armada besar pemadam kebakaran dipastikan akan kesulitan menembus jantung permukiman.

“Jangan Anggap Selesai dengan Paralon”

Lambannya respons PLN memantik reaksi keras dari parlemen kota. Anggota DPRD Kota Samarinda, Elnatan Pasambe, yang menerima langsung keluhan dan dokumen visual dari warga, mengaku geram dengan penanganan yang dinilai setengah hati.

Elnatan mengungkapkan, dirinya sudah mendatangi langsung kantor PLN untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Simpang Tiga. Namun, ia melihat ada jurang pemisah yang besar antara komitmen di atas kertas dan realisasi di lapangan.

“Kalau di kantornya iya-iya saja, tapi ke lapangan tidak pernah,” cetus Elnatan kepada awak media, Senin (15/6/2026).

Ia mengkritik tajam langkah kedaruratan petugas PLN yang hanya membungkus kabel menyala itu dengan pipa paralon. Bagi seorang legislator yang melihat riwayat kebakaran di lokasi tersebut, paralon bukanlah solusi permanen, melainkan justru menambah risiko baru.

“Kan paralon itu darurat. Lama-lama bisa panas, meleleh, bisa jadi kebakaran. Nah itu laporannya sudah api itu melejak-lejak di atas. Tapi tadi kok dianggap sepele,” sesal Elnatan.

Ia mendesak manajemen PLN untuk segera turun tangan secara konkret sebelum jatuh korban jiwa. “Jangan sampai ada kesan masa bodoh terhadap kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat,” pungkasnya.

Potret Nelangsa di Balik Data Sosial Ekonomi

Di sela-sela kecemasan akan bahaya kebakaran, warga RT 04 Simpang Tiga saat ini juga tengah menjalani proses pendataan sosial ekonomi. Bagi Marhen, pendataan ini bak cermin yang memperlihatkan wajah asli warganya yang sebagian besar berada di garis ekonomi menengah ke bawah.

Banyak kepala keluarga di sana yang menggantungkan hidup dari upah kerja serabutan atau hasil berkebun yang tak menentu. Jangankan untuk memindahkan instalasi listrik secara mandiri—sesuatu yang secara aturan memang tugas PLN—untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari saja mereka harus memeras keringat keliling kampung.

Di bawah bentangan kabel yang sewaktu-waktu bisa memercikkan api, warga RT 04 Simpang Tiga kini hanya bisa terus waspada, sembari berharap ketukan pintu dari petugas PLN yang membawa tiang listrik baru, bukan petugas pemadam kebakaran yang datang saat segalanya sudah terlambat.(Tr)

Related Posts

1 of 3