Nisita.info, Samarinda – Kelurahan Desa Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara belakangan ini bernuansa sibuk yang hangat. Menjelang dibukanya Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 yang akan berlangsung dari tanggal 25 hingga 28 Juni mendatang, desa ini menjelma menjadi sebuah bengkel kerja raksasa yang digerakkan oleh satu nilai luhur, gotong royong.
Bukan perkara mudah mempersiapkan perhelatan akbar yang diproyeksikan menarik ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, masyarakat Dayak Kenyah di Pampang punya rumusan sendiri untuk menyiasatinya. Mereka membagi peran dengan sangat rapi berbasis Rukun Tetangga (RT) demi memastikan seluruh fasilitas pendukung tegak berdiri sebelum hari H.
Ketua Adat Desa Pampang, Esrom Palan, mengungkapkan bahwa manajemen kerja komunal ini sengaja dibagi menjadi beberapa tahapan agar efisien dan terstruktur.
“Yang membantu sementara ini RT 2, 3, dan 4,” ujar Esrom saat dikonfirmasi di tengah kesibukan warga mempersiapkan sarana festival.
Di fase awal ini, warga dari ketiga RT tersebut fokus pada pengerjaan fisik dasar dan pengumpulan material vital, salah satunya adalah penyediaan batang bambu. Bambu-bambu ini nantinya memegang peranan krusial, mulai dari konstruksi area festival hingga tempat pengikat ornamen sakral Serebu Dayak. Skala persiapannya pun tidak main-main.
“Kalau bambu yang disiapkan banyak, sampai ke Muara,” tambahnya dengan nada optimistis.
Namun, kerja besar ini tidak berhenti di tiga wilayah tersebut. Begitu festival mendekati hari pelaksanaan, energi gotong royong akan dilipatgandakan dengan melibatkan sisa wilayah lainnya.
“Nanti untuk pelaksanaan, RT 1, RT 5, dan RT 6 juga ikut, jadi satu kelurahan bersama-sama,” jelas Esrom lagi. Keterlibatan menyeluruh ini memastikan bahwa setiap warga Pampang tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemilik sah dari jalannya festival tersebut.
Bagi Esrom Palan dan masyarakat setempat, peluh yang keluar selama berhari-hari menjelang festival memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar urusan seremonial tahunan atau target tiket masuk sebesar Rp30.000 per orang. Ada sebuah tanggung jawab moral besar yang sedang diletakkan di atas pundak generasi hari ini.
“Harapan kita kegiatan seperti ini terus-menerus untuk anak cucu. Karena ini adalah kegiatan leluhur yang harus diteruskan kepada generasi-generasi berikutnya,” ungkap Esrom dengan pandangan menerawang ke depan.
Di tengah derasnya arus modernisasi kota Samarinda, Desa Budaya Pampang memang terus konsisten berdiri sebagai benteng pertahanan kearifan lokal. Budaya Dayak Kenyah diposisikan sebagai salah satu pilar identitas nusantara yang kaya akan nilai sejarah.
“Negara kita memiliki banyak budaya. Ini salah satu budaya yang ada di Indonesia yang harus dilestarikan untuk anak bangsa,” tegas sang Ketua Adat mengingatkan.
Selama empat hari penuh, hasil kerja keras gotong royong antar-RT ini akan menjadi panggung bagi ragam atraksi magis. Mulai dari ritual adat pembuka, kompetisi ketangkasan menyumpit, pertunjukan tari yang memukau, hingga puncaknya berupa prosesi pernikahan adat Alaq Leto yang eksotis. Bahkan, wujud toleransi dan keberagaman juga akan tersaji lewat selingan pertunjukan kesenian Jawa Kuda Lumping pada Sabtu malam.
Saat gerbang festival dibuka resmi pada Kamis pagi nanti, setiap jengkal bambu yang berdiri dan setiap dekorasi yang terpasang akan menceritakan kisah yang sama kepada dunia: bahwa budaya mulia ini tetap hidup karena dirawat bersama-sama, dari RT ke RT, demi masa depan anak cucu mereka.(Tr)














