Pendidikan

Mengintip Ketangguhan dan Harapan di SD Negeri 002 Anggana

Berkunjung ke kawasan tepian sungai di Kabupaten Kutai Kartanegara, ada satu cerita dari SD Negeri 002 Anggana.

Halo, Sobat Nisita! Melangkah ke dalam Sekolah Dasar Negeri 002 Anggana, ada tantangan besar yang diam-diam harus dihadapi para guru dan murid di sana.

Sekolah yang berdiri menggunakan konstruksi panggung khas daerah rawa ini mulai memperlihatkan tanda-tanda kerusakan. Beberapa sudut bangunan tampak miring, rangka atap terlihat karena plafon yang terlepas, hingga sisa-sisa air yang masuk ketika hujan turun deras. Secara sosiologis, fenomena ini menggambarkan konsep Keadilan Spasial (Spatial Justice) —sebuah kondisi di mana anak-anak di daerah pelosok atau rawa sering kali harus berjuang dengan fasilitas belajar yang belum seimbang dibanding teman-teman mereka di perkotaan.

Seperti dilansir suara.kaltim.com, Jumat (31/7/2026) Kepala Sekolah yang baru bertugas di sana, Sumargoto menyampaikan suatu pesan. Ia menegaskan bahwa yang terpenting bagi sekolah saat ini bukanlah gedung yang megah, melainkan rasa aman dan nyaman untuk anak-anak.

“Kalau barang rusak mungkin bisa diganti. Tapi manusia harus diselamatkan. Itu yang paling penting,” tuturnya.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Sebelum Ia bertugas, salah satu bagian plafon sekolah di Jalan Raya Samarinda Desa Sungai Meriam ini sempat runtuh. Untungnya, peristiwa itu terjadi saat libur sekolah sehingga tidak ada korban jiwa. Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa anak-anak di pelosok berhak mendapatkan ruang belajar yang aman tanpa rasa waswas.

Plafon bangunan sekolah yang berlubang setelah sempat runtuh.

Menariknya nih Sobat Nisita, meski dengan segala keterbatasan, ada 101 murid yang tetap setia menimba ilmu di sekolah ini. Mengapa para orang tua di sana tetap yakin menyekolahkan anaknya di SDN 002 Anggana?

Jawabannya ada pada apa yang sering kita sebut sebagai Modal Sosial (Social Capital), yaitu rasa saling percaya dan kebersamaan yang erat antara warga dan pihak sekolah. Orang tua murid melihat sendiri betapa gigihnya para guru mengajar, hingga kebersamaan mereka yang cekatan mengamankan dokumen sekolah saat air rawa naik ke dalam kantor. Hubungan hangat inilah yang menjadi “Pondasi Utama” yang menjaga sekolah ini tetap berdiri tegak di tengah keterbatasan sarana.

Tidak hanya tangguh, warga sekolah SDN 002 Anggana juga punya cara-cara cerdik untuk beradaptasi, lho! Karena belum punya gedung perpustakaan dan laboratorium, para guru menyulap lemari-lemari kelas sebagai tempat menyimpan dan menginventarisir buku pelajaran agar tetap mudah dibaca anak-anak.

Soal penghematan energi, sekolah ini juga punya solusi. Mereka memanfaatkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik harian saat cuaca cerah, sehingga bisa menekan biaya operasional. Tak kalah penting, sekolah ini juga konsisten melestarikan budaya lokal dengan mengajarkan Bahasa Kutai Tenggarong agar bahasa daerah tetap hidup di ingatan anak-anak muda.

Sobat Nisita, semangat belajar murid-murid dan dedikasi guru di SD Negeri 002 Anggana adalah bukti nyata ketangguhan masyarakat kita di daerah tepian sungai. Namun, tentu kita tidak ingin keselamatan mereka hanya bersandar pada “keberuntungan” semata.(*/Berita dan foto dari suara.kaltim.com)

Related Posts

1 of 13