Nisita.info, Samarinda — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Samarinda memberikan sejumlah catatan penting terkait aspek keamanan pangan dan perizinan dalam Seminar Akhir Kolaborasi Riset dan Inovasi Strategis (KRIS) Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur, Senin (19/10/2026).
Riset ini mengangkat inovasi biskuit fungsional kaya kalsium berbahan dasar tepung tulang ikan limbah industri amplang untuk mendukung pencegahan stunting di kawasan penyangga IKN.
Kepala BBPOM di Samarinda, Agung Kurniawan, S.T., mengapresiasi tinggi langkah inovatif periset dari Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman yang memanfaatkan limbah lokal untuk fortifikasi kalsium. Kendati demikian, ia menekankan pentingnya pengujian yang ketat tidak hanya dari sisi mutu, tetapi juga aspek keamanan pangan secara menyeluruh.
“Ketika mutu sudah ditunjukkan, bagaimana dengan keamanan yang dimunculkan? Bukan makanan namanya kalau tidak aman. Ini yang perlu menjadi konfirmasi ketika produk ini akan dikembangkan ke skala yang lebih besar,” ujar Agung dalam sesi diskusi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Peneliti, Dr. apt Helmi, S.Farm., menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan uji laboratorium mengacu pada parameter SNI terkait tepung, termasuk pengujian cemaran logam berat seperti timbal, kadmium, dan arsen yang dinyatakan memenuhi ambang batas aman. Kendati demikian, ia mengakui masih ada catatan khusus pada parameter cemaran raksa (mercury) yang kadarnya masih di atas ambang batas standar, sehingga masih memerlukan analisis mendalam terkait sumber bahan bakunya. Sementara itu, pengujian untuk cemaran mikroba seperti ALT, Salmonella, serta kadar air saat ini masih dalam proses laboratorium.
Baca juga: BRIDA Kaltim Dorong Pemanfaatan Tulang Ikan Limbah Amplang Jadi Biskuit
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan BBPOM, Karolina Reyni Kristiani, S. Farm., turut menambahkan bahwa untuk registrasi produk komersial di Badan POM, pemenuhan standar kategori pangan, uji kadar air (di bawah 4 persen), serta uji cemaran logam, kimia, dan mikrobiologi (Salmonella) merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi.
Sinergi dan Keberlanjutan Riset
Dari sisi ketersediaan bahan baku, tim peneliti menggandeng UD Harmas di Samarinda yang konsisten memproduksi berbagai jenis amplang—seperti dari ikan bandeng dan ikan pipih—sebagai pemasok limbah tulang ikan. Pihak BBPOM menyarankan agar ke depannya perlu disusun Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan limbah yang ketat guna menghindari risiko kontaminasi akibat waktu penanganan yang terlalu lama setelah produksi daging ikan.
Melalui masukan dan pendampingan dari berbagai pihak, riset hilirisasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi cerdas penanganan limbah industri lokal dan pendukung program zero new stunting di kawasan penyangga IKN, tetapi juga siap memenuhi standar regulasi untuk dapat dipasarkan secara luas di masa mendatang. (Tr/*)















