Warta Utama

Sempat Kontraksi, Aktiva Luar Negeri Bersih Alami Rebound

Halo, Sobat Nisita! Dinamika likuiditas perekonomian nasional kembali menunjukkan tren positif. Berdasarkan data resmi Bank Indonesia (BI), uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2026 tumbuh sebesar 8,3% secara year-on-year (yoy), merangkak naik dari posisi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,2% (yoy).

Menariknya, di balik akselerasi pertumbuhan likuiditas senilai Rp10.587,9 triliun tersebut, terdapat cerita menarik mengenai pemulihan sektor eksternal. Aktiva luar negeri bersih (net foreign assets) tercatat mengalami titik balik (rebound) yang signifikan setelah sempat mengalami tekanan berat pada bulan sebelumnya.

Tercatat bahwa pada Agustus 2026, komponen aktiva luar negeri bersih sempat jatuh ke zona kontraksi sebesar -6,6% (yoy). Tekanan eksternal ini menjadi salah satu faktor penahan laju pertumbuhan uang beredar nasional pada pertengahan triwulan ketiga tahun ini.

Namun, situasi tersebut berbalik secara drastis pada bulan berikutnya. Mengacu pada siaran pers resmi Bank Indonesia Nomor 28/235/DKom yang diterbitkan pada 23 Oktober 2026, aktiva luar negeri bersih pada September 2026 sukses berbalik arah dan tumbuh positif sebesar 1,0% (yoy).

“Perkembangan M2 pada September dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, aktiva luar negeri bersih, dan penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 24,4% (yoy), setelah mengalami kontraksi sebesar 7,0% (yoy) pada Agustus 2026. Aktiva luar negeri bersih pada September 2026 tumbuh sebesar 1,0% (yoy), setelah mengalami kontraksi pada Agustus 2026 sebesar 6,6% (yoy),” demikian rilis resmi Departemen Komunikasi Bank Indonesia yang ditandatangani oleh Direktur Eksekutif Ramdan Denny Prakoso.

Pemulihan aktiva luar negeri bersih ini memegang peranan krusial bagi perekonomian domestik. Secara teoretis, peningkatan aktiva luar negeri bersih mencerminkan adanya perbaikan pada posisi cadangan devisa negara atau penguatan posisi aset luar negeri yang dipegang oleh sistem moneter (Bank Indonesia dan bank umum).

Ketika sektor eksternal kembali membukukan pertumbuhan positif, tekanan terhadap pasokan valuta asing dapat mereda sekaligus memberikan suntikan likuiditas yang sehat ke dalam sistem keuangan domestik. Hal ini berjalan beriringan dengan lonjakan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang melesat hingga 24,4% (yoy) dan kuatnya penyaluran kredit perbankan yang tumbuh 12,7% (yoy) pada bulan yang sama.

Kombinasi antara pulihnya sektor eksternal dan akselerasi fiskal ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang terjaga di tengah dinamika global, sekaligus memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai untuk mendukung roda perekonomian sektor riil.(*/)

Sumber berita dan foto: Siaran Pers Bank Indonesia No. 28/235/DKom, tanggal 23 Oktober 2026.

Related Posts

1 of 27