Nisita.info, Jakarta – Malam di Balai Sarbini (30/1/2026) tak sekadar riuh oleh distorsi gitar atau dentuman drum. Di bawah lampu panggung yang temaram, ada aroma nostalgia yang pekat saat dua simbol besar akademik Indonesia—Jaket Kuning (UI) dan Ganesha (ITB)—bertemu bukan untuk adu rumus, melainkan adu harmoni dalam tajuk Queen The Colossal Live.
Rivalitas legendaris antara dua kampus ini luruh seketika saat nada-nada magis milik Queen mulai dimainkan. Di barisan penonton, terlihat Irene Umar, sosok yang kini mengemban mandat di dunia ekonomi kreatif, ikut terlarut dalam atmosfer tersebut.
Baginya, pemandangan malam itu lebih dari sekadar konser musik; itu adalah potret tentang bagaimana sebuah “rumah lama” (alumni) bisa menjadi ruang tumbuh bagi karya yang luar biasa.
Kehadiran musisi legendaris seperti Candra Darusman (UI) dan Purwacaraka (ITB) menambah bobot emosional acara. Mereka membuktikan bahwa gairah bermusik tak pernah luntur dimakan usia, justru semakin matang dalam balutan persahabatan.
Melihat sinergi lintas generasi ini, Irene Umar menangkap sebuah energi besar. Ia melihat bahwa ketika komunitas dan jejaring alumni bergerak, mereka mampu menciptakan ekosistem yang mandiri dan kuat.
“Battle of the Bands ini menunjukkan bagaimana kreativitas dan kolaborasi bisa menjadi kekuatan nyata. Ketika talenta terbaik bertemu dalam ruang yang saling mendukung, lahirlah karya yang tidak hanya menghibur, tapi juga memberi dampak,” ungkap Irene dengan mata berbinar.
Malam itu, sekat-sekat jabatan dan almamater seolah menguap. Nama-nama besar mulai dari Purbaya Yudhi Sadewo, Budi Gunadi Sadikin, hingga Yovie Widianto duduk berdampingan, menikmati setiap bait lagu seolah kembali ke masa muda di selasar kampus.
Rivalitas “Yellow Jacket vs Ganesha” yang biasanya panas di lapangan olahraga atau debat akademik, malam itu bertransformasi menjadi kolaborasi yang manis. Irene melihat model gerakan berbasis komunitas seperti inilah yang akan menjadi mesin baru dalam menggerakkan dunia kreatif kita ke depan.
Sebab, pada akhirnya, musik bukan tentang siapa yang paling hebat di atas panggung. Musik adalah tentang bagaimana kita menemukan frekuensi yang sama untuk bergerak bersama, menciptakan solidaritas yang inklusif, dan menjaga agar api kreativitas terus menyala lintas generasi.
Malam itu, di Balai Sarbini, kita belajar satu hal: rivalitas mungkin membuat kita berlari lebih cepat, tetapi kolaborasi membuat kita melangkah lebih jauh.(KIF-ekraf/*)















