Konservasi

Melawan Ancaman Jamur Akar Putih di Kebun Karet Kutai Barat

Nisita.info, Sekolaq Darat – Ancaman serius dari penyakit Jamur Akar Putih (JAP) kini semakin nyata di sentra perkebunan karet Kutai Barat (Kubar), dengan potensi menimbulkan kerugian produksi lateks hingga kegagalan panen.

Merespons kondisi ini, Tim dari UPTD Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan (P2TP) Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim segera turun tangan melakukan operasi pengendalian intensif di Kecamatan Sekolaq Darat dan Linggang Bigung selama tiga hari (19–21 November 2025).

Deteksi lapangan menunjukkan serangan JAP bervariasi dari ringan hingga berat, ditandai gejala visual berupa daun menguning dan layu, hingga benang-benang jamur putih (rizomorf) yang menempel kuat pada perakaran.

Untuk memutus rantai infeksi yang dapat membunuh tanaman dalam waktu singkat, tim gabungan menerapkan dua pendekatan terpadu: Kuratif dan Preventif.

Penanganan kuratif difokuskan pada upaya pengobatan cepat terhadap tanaman karet yang sudah menunjukkan gejala terinfeksi:

  1. Pembersihan Fisik: Petugas melakukan penggalian tanah di sekitar leher akar tanaman yang sakit untuk membuka dan membersihkan rizomorf yang menempel. Bagian akar yang terinfeksi kemudian dikerok secara hati-hati.

  2. Aplikasi Hayati/Fungisida: Setelah dikerok, area perakaran yang terbuka diaplikasikan fungisida atau agens hayati Trichoderma spp., yang berfungsi sebagai penekan pertumbuhan jamur patogen.

  3. Eradikasi Total: Untuk kasus infeksi yang parah (lebih dari 50 persen), dilakukan eradikasi berupa penebangan dan pembongkaran tunggul. Langkah tegas ini sangat penting untuk memastikan tunggul mati tidak menjadi sumber infeksi lanjutan (inokulum) yang dapat menyebar ke pohon sehat lainnya.

Kondisi akar yang terkena penyakit Jamur Akar Putih (JAP). Ancaman ini semakin nyata di sejumlah sentra perkebunan karet di Kutai Barat (Foto: Ig disbunkaltim).

Sementara penanganan kuratif mengeliminasi serangan yang ada, pengendalian preventif difokuskan untuk melindungi lahan yang belum terserang atau area sekitar tanaman yang telah diobati, sekaligus membangun ekosistem kebun yang resisten terhadap JAP.

Langkah-langkah pencegahan ini meliputi:

  1. Sanitasi Awal: Pembersihan tunggul dan sisa kayu secara menyeluruh sebelum penanaman, menghilangkan material yang menjadi inang awal jamur.

  2. Imunisasi Tanah: Penerapan agens hayati Trichoderma spp. pada lubang tanam bibit baru untuk memperkuat daya tahan akar sejak dini.

  3. Tanaman Antagonis: Mendorong penanaman Sansevieria (lidah mertua) sebagai tanaman antagonis alami yang mampu menekan pertumbuhan patogen tanah.

  4. Tanaman Penutup: Menganjurkan penanaman tanaman penutup tanah seperti Pueraria javanica untuk menjaga kelembapan dan kesehatan tanah.

Kepala UPTD P2TP Disbun Kaltim, Ruspiansyah, menegaskan bahwa deteksi dini dan pengendalian terintegrasi adalah kunci untuk menjaga produktivitas kebun karet.

Kegiatan ini turut diisi dengan edukasi lapangan kepada petani mengenai sanitasi kebun, identifikasi dini gejala JAP, dan metode aplikasi agens hayati yang tepat.

Disbun Kaltim merekomendasikan monitoring berkala setiap tiga bulan untuk memastikan efektivitas pengendalian, menunjukkan komitmen pendampingan teknis dan penyediaan agens hayati berkelanjutan di wilayah Kutai Barat.(Sumber dari Ig disbunkaltim)

Related Posts

1 of 7