Nisita.info – Di sebuah sudut Kabupaten Cianjur, riuh rendah suara anak-anak memecah kesunyian ladang. Mereka bukan sedang bermain tanpa arah, melainkan tengah menjemput masa depan di PAUD Kunang-Kunang dan PKBM Bhayangkara.
Sekolah ini unik; siswanya adalah anak-anak usia dini hingga remaja berusia 20 tahun yang sebagian besar merupakan putra-putri petani penggarap.
Bagi mereka, sekolah bukan sekadar gedung formal dengan aturan kaku. Sekolah adalah “ruang bernapas” di sela-sela kewajiban membantu orang tua di sawah. Di sinilah, filosofi “Learning over Schooling” yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mewujud secara nyata.
Meski berada di lingkungan perdesaan, sekolah yang dikelola oleh Sri Ningsih ini menolak untuk tertinggal. Sebuah pemandangan kontras namun mengharukan terjadi saat teknologi mutakhir berupa Papan Interaktif Digital (PID) hadir di tengah ruang kelas yang sederhana.
Perangkat ini menjadi jembatan bagi anak-anak petani untuk mengenal dunia digital. Dengan jemari kecilnya, mereka diajak menulis, mewarnai, dan menggambar di atas layar sentuh besar yang bercahaya.
“Kami berharap anak-anak semakin semangat belajar. Cara belajarnya jadi lebih menarik dan materi yang dipelajari lebih beragam. Mudah-mudahan lulusan ke depan bisa lebih berkualitas,” ungkap Sri Ningsih dengan mata berkaca-kaca penuh harap.
Kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, ke sekolah ini mempertegas satu pesan: pendidikan berkualitas adalah hak setiap warga negara, tanpa peduli di mana mereka berada atau apa pekerjaan orang tuanya.
Abdul Mu’ti tidak datang dengan pidato formal yang kaku. Ia justru melebur, mengajak anak-anak bernyanyi “Di Sini Senang, Di Sana Senang”, hingga mencoba langsung Papan Interaktif Digital bersama para murid. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya terbatas pada sistem persekolahan (schooling), melainkan harus menjadi sistem belajar (learning) yang luas.
“Pendidikan itu tidak hanya diselenggarakan di sekolah-sekolah formal, tetapi juga di lembaga nonformal dan informal. Usia dini adalah masa emas; pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat harus sama-sama kita perkuat,” tegas Mendikdasmen.
Lebih dari sekadar fasilitas digital, PKBM Bhayangkara dan PAUD Kunang-Kunang berkomitmen menciptakan lingkungan yang aman. Di tengah kerasnya kehidupan sebagai petani penggarap, sekolah ini diposisikan sebagai oase yang bebas dari kekerasan dan perundungan—sebuah taman bermain yang menyenangkan bagi anak-anak untuk tumbuh.
Harapan Sri Ningsih sederhana namun mendalam: ia ingin setiap bantuan yang masuk ke sekolahnya menjadi energi bagi murid-muridnya agar tetap maju dan berani bermimpi besar, meski kaki mereka masih sering bersentuhan dengan lumpur sawah setiap harinya.
Pesan Mendikdasmen sebelum berpamitan menjadi pengingat bagi kita semua: “Semangat ya, rajin belajar. Semoga sekolahnya terus berjalan dan anak-anaknya terus maju.”(BKHM-Kemendikdasmen)















