Oase

Pelukan Hangat Bulan Bung Karno di Air Hitam

Sore itu, dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno, kecemasan Solikah perlahan mencair.

Nisita.info, Samarinda – Riuh rendah suara warga berpadu dengan ketukan langkah kaki di gang-gang RT 11, Kelurahan Air Hitam. Di salah satu sudut ruangan, seorang wanita paruh baya duduk dengan jemari yang saling bertautan erat. Ia adalah Ibu Solikah. Wajahnya menyiratkan guratan kecemasan yang tak bisa disembunyikan.

“Sebelum diperiksa ya gugup, takut. Takut kalau ada yang tinggi apa (hasil tesnya),” akunya jujur, mengenang rasa was-was yang sempat menggelayuti dadanya.

Selama ini, Solikah hanya bisa memendam kekhawatiran tentang penyakit lambung dan bayang-bayang kadar gula darah yang menghantuinya. Riwayat enggan memeriksakan diri secara rutin adalah cerita klasik bagi banyak warga di sini.

Langkah narasinya dimulai saat namanya lantang dipanggil oleh petugas. Dengan perlahan, ia melangkah menuju meja pemeriksaan medis yang dijaga oleh dr. Angga dari Klinik Primecare. Saat jarum kecil menusuk ujung jarinya untuk mengambil sampel darah, Solikah sempat memejamkan mata. Namun, ketegangan itu seketika sirna begitu lembar hasil diagnosa dibacakan.

“Ternyata normal, enak,” selorohnya dengan helaan napas lega yang begitu panjang. Senyumnya yang sempat hilang kini terbit kembali.

Momen Haru di Balik Sebungkus Beras

Puncak dari jalinan kisah humanis hari itu terjadi sesaat setelah pemeriksaan medisnya usai. Solikah diarahkan untuk menerima bingkisan berupa beras stimulan. Di sana, telah berdiri Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Samarinda, H. Iswandi.

Bukan sekadar penyerahan bantuan yang kaku dan formal, momen itu mendadak berubah menjadi panggung emosional yang menyentuh hati siapapun yang mengamatinya. Saat Solikah menerima sebungkus beras, Iswandi mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Ada ketulusan yang pekat terpancar ketika kedua tangan mereka saling bertumpu. Iswandi menatap dalam, menyalami Solikah dengan genggaman hangat khas seorang bapak yang sedang menguatkan warganya. Di sisi lain, Solikah menyambut jabat tangan itu dengan rasa syukur yang membuncah. Sorot mata keduanya menyiratkan sebuah pesan tanpa kata: bahwa di tengah kerasnya perjuangan hidup, mereka tidak sedang berjalan sendirian.

Momen jabat tangan yang penuh rasa hormat dan keharuan itu seolah mengunci esensi sejati dari ajaran Bung Karno yang sering mendengungkan konsep gotong royong dan pembelaan terhadap “wong cilik”.

Harapan yang Terus Berlanjut

Bagi Solikah, hari itu bukan sekadar tentang periksa kesehatan gratis atau membawa pulang beras ke dapur rumahnya. Ini adalah tentang perhatian yang nyata hadir di depan mata.

“Harapannya ke depan acara seperti ini dilanjut, diteruskan. Kan gini kan banyak gunanya untuk masyarakat kita ini,” tutur Solikah dengan mata yang berbinar penuh harap.

Sambil melangkah pulang dengan langkah yang jauh lebih ringan dari saat ia datang, Solikah menyelipkan doa tulus untuk mereka yang telah mengukir senyum di wajahnya hari ini. “Mudah-mudahan sukses untuk semua acara ini. Khususnya untuk Pak Iswandi, PDI, sukses selalu dan maju,” pungkasnya.

Bulan Bung Karno di Air Hitam kali ini mungkin akan usai, namun kehangatan jabat tangan dan rasa aman yang ditinggalkannya di hati Ibu Solikah akan terus membekas untuk waktu yang lama.(Tr/*)

Related Posts

1 of 10