Oase

Mimpi Zilqueensa Kibarkan Merah Putih di Istana Nyaris Hanyut

NISITA.INFO – Di balik senyum tenang dan postur tegap para calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional di Depok, tersimpan cerita perjuangan yang luar biasa. Kisah itu datang dari Zilqueensa Abintary Laudicia Simatupang, siswi SMAN 2 Percontohan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Siapa sangka, langkah kakinya menuju panggung kehormatan di Istana Negara pada HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia nyaris terhenti akibat terjangan banjir besar yang melumpuhkan kampung halamannya.

Perjuangan Dua Tahun yang Diuji Bencana

Menjadi bagian dari Paskibraka Nasional bukanlah buah dari kerja instan. Zilqueensa telah mempersiapkan diri dengan disiplin tinggi selama dua tahun terakhir. Ia merintis impiannya dari seleksi tingkat sekolah, kabupaten (di mana ia keluar sebagai peringkat pertama), hingga berjuang di tingkat Provinsi Aceh.

Namun, tepat sebelum babak penentuan, alam menguji ketguhannya. Banjir besar melanda Aceh Tamiang, merendam pemukiman warga hingga atap rumah. Lapangan tempat ia biasa berlatih Paskibraka hancur dan berubah rupa menjadi genangan air mirip sungai.

Melihat kondisi tersebut, keraguan sempat melanda hatinya. Ia bahkan sempat berkata kepada kakaknya bahwa mungkin tahun ini ia harus mengurungkan niat dan fokus belajar saja.

Rumah Jadi Tempat Pengungsian, Latihan pun Mandiri

Di tengah musibah tersebut, ada sisi mulia dari keluarga Zilqueensa. Beruntung rumah mereka memiliki dua lantai, sehingga bisa difungsikan sebagai tempat berlindung bagi para tetangga yang kehilangan tempat tinggal akibat terjangan arus deras.

Meski latihan resmi sempat terhenti selama sebulan dan lapangan hancur, semangat gadis disiplin ini tidak ikut padam. Sembari membantu sesama, ia tetap menjaga kebugaran tubuhnya secara mandiri di rumah lewat push-up, sit-up, dan pull-up, sementara materi akademiknya dikejar secara daring.

“Waktu itu saya berpikir, mungkin tahun ini tidak bisa ikut. Tapi Alhamdulillah, proses pemulihan berjalan cepat berkat gotong royong banyak pihak,” kenang Zilqueensa.

Menuju Gerbang Akmil dan Impian Pembawa Baki

Disiplin baja yang ditempa Zilqueensa ternyata bukan sekadar untuk Paskibraka. Sejak dua tahun lalu, ia sudah mematok cita-cita besar: menjadi seorang Taruni Akademi Militer (Akmil). Bagi gadis asal Aceh ini, Paskibraka adalah kawah candradimuka yang tepat untuk membentuk mental dan karakternya sebagai calon prajurit masa depan.

Kini, setelah melalui gemblengan ketat selama hampir dua pekan bersama putra-putri terbaik dari 38 provinsi di Depok—mulai dari bangun pukul 04.00 pagi hingga malam hari—ia merasa jauh lebih siap menghadapi tantangan hidup.

Menjelang hari pengibaran di Istana Negara, Zilqueensa menyimpan secercah harapan untuk dipercaya sebagai pembawa baki. Kendati demikian, baginya posisi apa pun sama mulianya, asalkan Sang Merah Putih berkibar dengan sukses dan membanggakan nama Provinsi Aceh.

Sobat, Zilqueensa membuktikan satu hal penting bagi generasi muda: bahwa derasnya arus banjir sekalipun tak akan mampu menghanyutkan mimpi selama tekad dan usaha terus dijaga.

Sumber data dan informasi: InfoPublik.id

Related Posts

1 of 11