Nisita.info — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI/Sederajat tahun 2026 mencatatkan capaian impresif. Bukan hanya soal angka partisipasi yang mendekati 100 persen di berbagai provinsi, namun munculnya pergeseran paradigma di mana ujian tidak lagi dipandang sebagai momok yang menegangkan bagi peserta didik.
Laporan dari berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa TKA telah bertransformasi menjadi sebuah proses belajar yang bermakna, tertib, dan inklusif.
Keberhasilan TKA tahun ini didorong oleh kematangan infrastruktur digital. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebanyak 48.675 peserta didik dari 2.014 sekolah hampir seluruhnya melaksanakan tes secara mandiri dengan moda daring. Hal serupa terlihat di Nusa Tenggara Barat, di mana partisipasi mencapai angka fantastis 100.060 murid, termasuk keterlibatan aktif dari 41 satuan pendidikan luar biasa (SDLB).
Kesiapan ini mencerminkan bahwa digitalisasi pendidikan telah menjangkau pelosok, memberikan keadilan akses bagi siswa di berbagai kondisi geografis.
Satu hal yang menonjol dalam pelaksanaan kali ini adalah suasana psikologis di ruang ujian. Guru-guru di lapangan, mulai dari Dumai hingga Bengkulu, melaporkan pemandangan yang tak biasa: murid-murid yang keluar ruangan dengan senyuman, alih-alih wajah tegang.
“Murid terlihat lebih tenang dan siap. Bahkan, senyum terlihat dari wajah mereka saat keluar dari ruang ujian,” ungkap Abdul Azis, seorang guru di Kota Bengkulu.
Senada dengan itu, Qonita Annisa, seorang siswi di Kota Dumai, mengaku tantangan soal yang diberikan justru memicu motivasi belajarnya. “Soalnya cukup menantang. Saya ingin mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk ujian berikutnya,” tuturnya jujur.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengapresiasi kelancaran pelaksanaan nasional ini, namun tetap memberikan perhatian khusus pada daerah yang terdampak bencana.
“Laporan yang kami terima, alhamdulillah semua berjalan lancar. Hanya ada beberapa daerah yang menjadwalkan susulan karena kondisi gempa bumi. Bagi mereka, akan dijadwalkan ulang saat kondisi sudah aman,” tegas Abdul Mu’ti.
Keputusan ini menegaskan bahwa keamanan dan kesejahteraan murid tetap menjadi prioritas utama di atas prosedur administratif ujian.
Tingginya partisipasi TKA bukan sekadar prestasi statistik. Hasil dari tes ini akan menjadi data krusial bagi pemerintah untuk memotret capaian belajar murid secara menyeluruh dan terstandar.
Ke depan, TKA diharapkan menjadi instrumen evaluasi yang konsisten untuk menentukan arah kebijakan pendidikan nasional. Dengan suasana yang lebih tenang dan dukungan lingkungan belajar yang positif, TKA 2026 telah membuktikan bahwa asesmen nasional bisa dijalankan dengan integritas tinggi tanpa harus mengorbankan keceriaan dunia anak-anak.(Kemendikdasmen/tr)















