Nisita.info, Lebak — Usai memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Alun-Alun Rangkasbitung, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, melakukan kunjungan emosional ke Museum Multatuli, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (2/6/2026).
Kunjungan ini menjadi pemantik penting untuk merefleksikan kembali relevansi nilai-nilai Pancasila sekaligus memperkuat fondasi sejarah bagi generasi masa depan bangsa.
Dalam peninjauan tersebut, Wamendikdasmen didampingi oleh Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, unsur Forkopimda, serta Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.
Sebagai informasi, Bonnie Triyana merupakan sejarawan sekaligus penggagas berdirinya Museum Multatuli Rangkasbitung yang juga aktif dalam pelestarian sejarah nasional, termasuk penyelamatan Gedung Sarekat Islam di Semarang.
Menyusuri berbagai koleksi narasi sejarah, Wamen Fajar memperoleh pemaparan mendalam mengenai jejak kritik humanis Multatuli serta keterkaitan erat para tokoh nasional dengan tanah Lebak. Ia menegaskan bahwa roman Max Havelaar garapan Eduard Douwes Dekker bukan sekadar karya sastra, melainkan sebuah manifesto kemanusiaan.
“Semangat yang dituangkan dalam Max Havelaar sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama terkait keadilan dan kemanusiaan. Pesan-pesan itu penting untuk terus kita rawat dan aktualisasikan dalam kehidupan saat ini,” ujar Wamen Fajar Riza Ul Haq.
Lebih lanjut, Fajar menyoroti posisi strategis Kabupaten Lebak sebagai “mutiara sejarah” yang luar biasa. Bumi Banten ini tercatat memiliki benang merah sejarah dengan deretan pemikir besar dan pendiri bangsa, mulai dari Bung Soekarno, Haji Agus Salim, Tan Malaka, hingga tokoh pergerakan perempuan Maria Ulfah. Menurutnya, kekayaan historiografi ini harus masuk ke dalam memori kolektif anak muda era kekinian.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan apresiasi tinggi terhadap eksistensi Museum Multatuli. Pasalnya, destinasi ini memegang predikat sebagai satu-satunya museum post-kolonial di Indonesia, sekaligus masuk dalam jajaran elite sedikit museum post-kolonial yang ada di dunia.
Fajar menekankan bahwa di tengah gempuran digitalisasi, museum tidak boleh menjadi ruang pajang yang sunyi dan kaku. Karakter kebangsaan, persatuan, dan semangat antikolonialisme harus diinjeksikan secara interaktif kepada Generasi Z dan Generasi Alpha.
“Bagi kami di dunia pendidikan, museum seperti ini merupakan oase bagi anak-anak dan generasi muda. Museum harus menjadi ruang belajar yang hidup, terus berkembang, dan menghadirkan pengetahuan baru sehingga mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal sejarah,” urainya optimis.
Selain menjadi episentrum edukasi, Kemendikdasmen melihat potensi raksasa Kabupaten Lebak untuk melesat sebagai destinasi wisata sejarah (historical tourism) kelas dunia. Konektivitas dan dukungan infrastruktur penunjang yang kian mutakhir ke wilayah Banten dinilai membuka keran aksesibilitas yang lebih luas bagi masyarakat urban.
“Jika terus dikembangkan, wisata sejarah di Lebak tidak hanya memperkuat memori kolektif bangsa, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat setempat,” pungkas Fajar.
Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini diharapkan menjadi titik balik nasional untuk memperkokoh literasi sejarah. Melalui pemahaman masa lalu yang tangguh, generasi muda Indonesia diproyeksikan mampu mengaktualisasikan nilai Pancasila secara riil guna menjawab kompleksitas tantangan global di masa depan. (IF/Biro Komunikasi Kemendikdasmen)
Sumber: Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.















