“Masa lalu telah selesai dengan segala ceritanya. Hari ini adalah milik kita, dan masa depan adalah harapan yang siap kita jemput dengan rida-Nya.”
Sobat Nisita, pernakah Anda berdiri di depan sebuah gerbang yang baru terbuka, lalu menengok ke belakang dan melihat jalan panjang yang baru saja Anda lalui?
Ada jalan yang rata dan dihiasi bunga, namun tidak sedikit pula kelokan tajam, kerikil tajam, bahkan lubang yang sempat membuat kita tersandung.
Hari ini, tepat di Jumat pertama bulan Muharram, kita sedang berdiri di gerbang itu.
Muharram bukan sekadar penanda pergantian angka pada kalender Hijriah. Bagi jiwa-jiwa yang lelah, Muharram adalah hadiah dari Allah berupa “lembaran putih yang baru.”
Berada di hari Jumat—Sayyidul Ayyam, rajanya hari—di awal bulan yang suci ini, membuat atmosfer spiritual di sekitar kita terasa begitu teduh. Ini adalah momentum terbaik untuk melakukan satu hal yang sering kita tunda: berdamai dengan masa lalu.
Sering kali, langkah kita terasa berat memasuki tahun baru karena jemari kita masih erat menggenggam penyesalan masa lalu. Kegagalan bisnis, keputusan yang salah, hubungan yang retak, atau target-target tahun lalu yang berakhir menjadi wacana, kerap membayangi pikiran.
Namun, mari kita renungkan sejenak dengan hati yang lapang. Bukankah semua air mata dan kegagalan kemarin adalah alasan mengapa kita bisa sekuat hari ini?
Berdamai dengan masa lalu bukan berarti melupakan, melainkan menerima bahwa apa yang telah luput dari kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk kita. Dan apa yang menimpa kita, tidak akan pernah bisa luput dari kita. Ubah sudut pandang kita hari ini: jadikan masa lalu sebagai pupuk kedewasaan, bukan racun yang melemahkan langkah.
Ketika langkah kaki sudah terasa lebih ringan setelah melepaskan beban penyesalan, kini saatnya kita memandang ke depan. Bagaimana kita akan mengisi lembaran putih Muharram ini?
Merancang masa depan bukan sekadar menulis deretan goals yang mentereng di atas kertas. Lebih dari itu, ini adalah tentang melibatkan Allah dalam setiap helai rencana kita. Jika tahun lalu kita terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri hingga berujung kecewa, mari jadikan tahun ini sebagai momentum untuk lebih banyak “mengetuk pintu langit”.
Mulailah dari hal yang paling membumi. Perbaiki kualitas komunikasi dengan-Nya, mulailah dari menjaga salat lima waktu di awal waktu.
Tata kembali niat, bahwa setiap peluh kita dalam bekerja dan mencari nafkah adalah bagian dari ibadah.
Hadirkan kedamaian di sekitar kita, dengan lebih banyak memaafkan dan mengurangi intensitas berkonflik, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Sobat Nisita, Allah masih meminjamkan napas dan umur panjang kepada kita hingga Jumat pertama Muharram ini. Itu adalah bukti nyata bahwa Dia masih memberikan kita kesempatan kedua. Kesempatan untuk menulis cerita yang lebih indah, menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, dan berjalan mendekat kepada-Nya.
Selamat memasuki gerbang Muharram. Mari melangkah dengan senyuman, lepaskan yang telah berlalu, dan songsong masa depan dengan penuh harapan.(*/)














