Halo, Sobat Nisita! Kalimantan Timur sudah sangat populer dengan oleh-oleh khasnya, amplang yang gurih dan renyah. Oleh-oleh favorit ini terkenal akan rasa uniknya karena berbahan dasar ikan pipih. Sayangnya, di balik lezatnya camilan khas Benua Etam ini, proses produksinya menyisakan tumpukan limbah tulang ikan yang kerap terbuang sia-sia.
Kini, siapa sangka sisa produksi tersebut kini justru disulap menjadi produk bernilai gizi tinggi untuk menyelamatkan generasi masa depan Kaltim. Inovasi bernilai tinggi ini digagas oleh tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman (Unmul) yang bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur.
Baca juga: BBPOM Samarinda Sumbang Saran Aspek Keamanan dan Mutu Biskuit Tulang Ikan Pipih
Dalam penelitian bertajuk “Inovasi Biskuit Fungsional Kaya kalsium Berbasis Tepung Tulang Ikan Dari Limbah Produksi Amplang ini Untuk Mendukung Kemandirian Pangan dan Zero New Stunting di Kawasan Penyangga IKN” mereka mengolah limbah tulang ikan dari sentra produksi amplang menjadi biskuit fungsional kaya kalsium guna mendukung program pencegahan stunting di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Mengapa Tulang Ikan Pipih Lebih Unggul?
Dalam seminar akhir Kolaborasi Riset dan Inovasi Strategis (KRIS) di Kantor BRIDA Kaltim, Senin (19/10/2026), Ketua Tim Peneliti Unmul, Dr. apt. Helmi, S.Farm., membeberkan alasan menarik di balik pemilihan bahan baku. Timnya menguji dua jenis limbah tulang ikan yang biasa dipakai membuat amplang, yaitu ikan bandeng dan ikan pipih.

Dari hasil olahan laboratorium, tepung tulang ikan pipih terbukti jauh lebih unggul ketimbang tulang ikan bandeng:
1. Kandungan Kalsium Lebih Tinggi
Tepung tulang ikan pipih mengantongi kadar kalsium mencapai 9,98 persen, lebih tinggi dibandingkan tepung tulang ikan bandeng yang sebesar 7,74 persen.
2. Warna dan Tekstur Lebih Halus
Hasil olahan tepung tulang ikan pipih menghasilkan warna putih bersih dengan tekstur yang sangat halus.
3. Aroma Lebih Plain (Tidak Amis)
Berbeda dengan tepung tulang bandeng yang masih menyisakan aroma khas yang cukup menyengat, tepung tulang ikan pipih sama sekali tidak berbau amis (plain).
Baca juga: BRIDA Kaltim Dorong Pemanfaatan Tulang Ikan Limbah Amplang Jadi Biskuit
Karakteristik tulang ikan pipih yang plain dan halus ini membuat rasa biskuit jauh lebih mudah diterima oleh panelis serta anak-anak tanpa menyadarkan mereka bahwa biskuit gurih tersebut diperkaya dengan tepung tulang ikan. Bahkan, kadar kalsium pada biskuit hasil formulasi ini melonjak hingga 13 sampai 240 kali lipat dibanding biskuit terigu biasa!
Kolaborasi dan Harapan ke Depan
Langkah kreatif tim akademisi ini mendapat apresiasi hangat dari Koordinator Periset BRIDA Kaltim, Dr. Rizki Maharani, S.Hut., M.Sc., Ph.D. Dalam sesi diskusi, ia mengagumi gigihnya tim periset yang mampu menghasilkan produk fisik (prototype) nyata meskipun berada di tengah keterbatasan anggaran.

“Kami sangat mengapresiasi rekan-rekan peneliti bahwa riset ini sudah melangkah sampai sejauh ini. Walaupun dengan pendanaan yang terbatas, sangat muluk-muluk jika kita membayangkan sampai bisa jualan, tapi hasil yang dicapai hari ini dan adanya sampel produk ini sudah sangat luar biasa,” tutur Rizki Maharani.
Meski demikian, Rizki mengingatkan bahwa untuk membawa biskuit sehat ini menuju panggung komersial (Technology Readiness Level / TRL tingkat tinggi), masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah menjaga kontinuitas ketersediaan bahan baku dari para perajin amplang, penyusunan SOP masa simpan (storage time) limbah tulang ikan segar agar terhindar dari kontaminasi, serta pengujian kualitas dan keamanan pangan secara berkala.
Hadirnya inovasi biskuit kaya kalsium berbahan dasar limbah amplang ikan pipih ini menjadi bukti bahwa solusi masalah kesehatan seperti stunting bisa lahir dari kearifan lokal. Sebuah langkah kecil yang ramah lingkungan, namun berdampak besar bagi kesehatan anak-anak di kawasan penyangga IKN. (Tr/*)







