Olah Pikir

Mencuci Wajah Kota, Menjunjung Harkat Manusia

Oleh: Rony Asprianata*)

Pidato Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru baru-baru ini, Senin (12/1/2026) bukan sekadar retorika politik di atas podium. Saat beliau menyatakan lebih hormat kepada pemulung daripada koruptor, ada sebuah tamparan keras sekaligus pelukan hangat bagi nurani bangsa.

Bagi kita di Samarinda, pesan ini bukan hanya konsumsi berita nasional, melainkan pengingat tajam tentang bagaimana kita memperlakukan sesama warga di “Kota Tepian”.

Selama ini, kita seringkali terbiasa melihat dunia secara vertikal. Orang-orang dengan seragam rapi dan jabatan mentereng dianggap sebagai puncak pencapaian, sementara mereka yang berjibaku dengan sampah, debu jalanan, dan terik matahari di bantaran Mahakam seringkali dianggap “tak kasatmata”.

Pernyataan Presiden bahwa seorang pemulung lebih mulia dari koruptor adalah sebuah reposisi moral. Di Samarinda, kita punya ribuan pekerja sektor informal. Mereka adalah para petugas kebersihan yang memastikan trotoar kita nyaman, para pengumpul barang bekas yang secara tidak langsung membantu manajemen sampah kota, hingga buruh pelabuhan yang ototnya menjadi penggerak ekonomi daerah.

Jika Presiden saja berani membungkuk hormat kepada pemulung, lantas apa alasan kita untuk masih memandang rendah mereka?

Artikel ini ingin menekankan dua hal penting dari pesan Presiden tersebut untuk kita refleksikan di Samarinda:

Pertama, Memutus Rantai Perundungan di Sekolah. Pesan Presiden agar siswa tidak malu memiliki orang tua buruh atau pemulung harus menjadi fondasi kurikulum karakter di sekolah-sekolah kita.

Di Samarinda, jangan boleh ada lagi anak yang minder karena ayahnya menarik ojek atau ibunya berjualan sayur di pasar. Pendidikan harus menjadi eskalator sosial yang mengangkat martabat, bukan tempat di mana status ekonomi orang tua menjadi bahan ejekan.

Kedua, Kemanusiaan di Ruang Publik. Mari kita lihat sekeliling. Apakah kita sudah cukup menghargai mereka yang bekerja dengan otot dan kejujuran?

Menghargai mereka tidak selalu soal memberi uang, tapi soal tatapan mata yang setara, ucapan terima kasih yang tulus, dan tidak membuang sampah sembarangan yang justru menambah beban kerja mereka.

Gelar “Kota Tepian” yang nyaman dan bersih tidak akan pernah tercapai jika kita hanya fokus pada pembangunan fisik, namun abai pada pembangunan rasa hormat antarmanusia.

Kini saatnya warga Samarinda mempraktikkan apa yang ditegaskan Presiden: bahwa kehormatan sejati ada pada kemuliaan akhlak dan kejujuran dalam mencari nafkah.

Mari kita mulai dengan satu langkah sederhana: berhentilah melihat pekerjaan seseorang sebagai kasta, dan mulailah melihatnya sebagai bentuk pengabdian kepada keluarga dan negara.

Karena pada akhirnya, kota yang hebat bukan hanya kota yang punya gedung tinggi, tapi kota yang penduduknya tahu cara memuliakan mereka yang paling berjasa namun paling jarang dipuji.(red)

*) Penulis adalah Jafung Satpol PP Mahir pada Satpol PP Pemprov Kaltim

Related Posts

1 of 3