Pamungkas Festival di Pampang: Hujan Hari Minggu itu adalah muara dari seluruh rangkaian panjang Festival Budaya Dayak Kenyah ke-53. Sejak matahari meninggi di siang hari, para pengunjung yang memadati lamin sudah disuguhi keelokan gerak lewat Acara Pentas Kesenian Tradisional Dayak.
Nisita.info, Samarinda – Gemercik air hujan yang mengguyur kawasan Desa Wisata Budaya Pampang pada Minggu (28/6/2026) sore seolah tidak berdaya meredam kehangatan di dalam Lamin Adat.
Lamin Adat bergetar ritmis. Ratusan pasang mata menyaksikan bagaimana setiap jengkal tarian tradisional ditarikan dengan penuh penjiwaan. Memasuki malam hari, suasana beralih menjadi semakin intim saat ruang tengah lamin bertransformasi menjadi panggung Hiburan Rakyat. Agenda ini menjadi penutup dari rundown besar festival sebagaimana yang sempat diumumkan panitia lewat papan informasi di gerbang masuk.
Namun, puncak magis hari terakhir ini justru lahir dari alam. Ketika hujan deras bercampur angin mulai menderu di luar lamin, tidak ada satu pun warga maupun pelancong yang beranjak.
Alih-alih berteduh menjauh, riuh rendah penonton justru semakin menyatu dengan ketukan musik. Batasan antara penampil dan pengunjung runtuh seketika saat ratusan orang yang hadir memutuskan untuk turun ke lantai lamin dan ikut menari bersama di bawah atap kayu yang kokoh.
Semangat kerakyatan yang begitu organik di tengah cuaca ekstrem ini memantik kekaguman mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim, Awang Khalik, yang hadir berbaur di tengah masyarakat, tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya melihat bagaimana kebudayaan mampu menggerakkan hati banyak orang dengan begitu kuat.
“Luar biasa, di tengah hujan badai kita tetap bisa menjalankan acara ini dengan sangat baik. Masyarakat dari luar Pampang tetap datang, menunggu, bahkan ikut menari sampai acara selesai,” ungkap Awang Khalik dengan nada bangga.

Bagi Awang, apa yang tersaji di hari pemungkas Festival Pampang adalah potret sejati dari sebuah tradisi yang mengakar kuat. Kehadiran ribuan orang yang bertahan hingga larut malam di tengah kepungan hujan menjadi bukti konkrit bahwa festival ini bukan lagi sekadar kalender pariwisata tahunan yang dikejar karena kewajiban.
“Seumur hidup saya baru melihat kegiatan yang betul-betul menjadi roh budaya. Budaya di Pampang ini tidak lagi hanya dinikmati oleh masyarakat Pampang, tetapi juga oleh orang-orang dari luar. Bahkan tadi mereka ikut menari dengan penuh semangat,” tambahnya.
Saat malam semakin larut dan ritual hiburan rakyat pelan-pelan mencapai ujungnya, Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 resmi menuntaskan seluruh janjinya. Rangkaian budaya ini telah selesai digenapi. Di tengah basahnya bumi Borneo malam itu, masyarakat Kalimantan Timur pulang dengan satu memori kolektif yang sama: bahwa di dalam Lamin Adat Pampang, kebersamaan dan identitas adalah api yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh hujan sekeras apa pun.(Tr/*)















