Oleh: Taufiqurrahman
Perjalanan lintas provinsi dari Samarinda menuju Banjarmasin akhir-akhir ini menyuguhkan kejutan kecil di dompet. Kenaikan harga tiket bus antarkota yang kini menembus angka Rp300 ribu cukup membuat kita mengelus dada.
Sobat Nisita, kenaikan harga tiket bus antar provinsi memang tidak dapat kami hindari. Tapi, rasa pegal dan syok terapi ongkos perjalanan seketika terbayar begitu kaki ini menapak di kawasan Aglomerasi Banjarbakula.
Di sini, ada penawar dahaga bernama Trans Banjarbakula. Warga lokal menyapa armada bus hijau berseri ini dengan sebutan yang ramah di telinga: Bus “Tayo”.
Sensasi Kabin: Dingin, Lapang, dan Bersahabat
Mencoba naik bus Tayo memberikan pengalaman mobilitas perkotaan yang menyenangkan. Begitu pintu bus terbuka, hembusan AC yang dingin langsung menyambut. Tidak ada kesan lepek atau desak-desakan layaknya angkutan konvensional tempo dulu.
Secara fisik, bus ini tergolong tipe bus medium dengan panjang sekitar 8 meter dan lebar sekitar 2,2 meter. Ukuran yang terbilang pas—tidak terlalu bongsor hingga membuat macet jalanan, tapi juga tidak kekecilan.

Interiornya dirancang sangat cermat. Kursi penumpang disusun berhadapan menyusuri sisi kiri dan kanan (side-facing), menciptakan lorong tengah yang sangat lapang. Bagi penumpang berdiri, tersedia jajaran handgrip (pegangan tangan) berwarna kuning terang yang digantung rapi di atap kabin yang tinggi. Mau duduk santai atau berdiri sambil melihat pemandangan kota, rasanya sama-sama nyaman.
Cuma Rp5.000, Bahkan Rp2.000 untuk Pelajar hingga Lansia!
Satu hal yang paling bikin senyum-senyum sendiri adalah kepraktisan dan tarifnya. Di era serba digital ini, Anda cukup menempelkan kartu e-money atau melakukan scan QRIS via ponsel.

Tarif umumnya hanya Rp5.000 sekali jalan. Bahkan dari Taman Siring KM 0 tarif jalan cuma Rp3000. Lebih manisnya lagi, ada skema tarif khusus yang sangat inklusif bagi pelajar, mahasiswa, lansia, hingga penyandang disabilitas, yakni hanya Rp2.000! Sebuah langkah nyata dalam menghadirkan transportasi publik yang berpihak pada semua kalangan.
Dari Transit Km 17 Hingga Halte Integrasi Nol Kilometer
Perjalanan dengan bus Tayo juga mengajarkan kita indahnya sistem transportasi terintegrasi. Dari Banjarbaru, bus Koridor 1 akan mengantar penumpang menuju simpul transit di Terminal Gambut Barakat (Km 17). Di sana, kita tinggal berpindah ke Koridor 2 yang menuju ke jantung kota Banjarmasin.

Bus akan membawa kita melintasi lanskap kota hingga berhenti di Halte Integrasi Nol Kilometer di Jalan Jendral Sudirman, persis di tepi Sungai Martapura yang ikonik. Tempat ini bukan sekadar pemberhentian, tapi juga titik koneksi bagi penumpang yang ingin bersiap pindah ke Koridor 3—menuju kawasan Kayu Tangi, melintasi Jembatan Sei Alalak yang megah, hingga menyeberang ke arah Handil Bakti tempat Kampus Baru UNISKA MAB berdiri.
Catatan untuk Kota Tepian
Merasakan sendiri kenyamanan bus Tayo di Banjarmasin membuat pikiran melayang ke Kota Samarinda. Dengan spesifikasi bus medium yang hanya membutuhkan lebar jalan minimal sekitar 3,5 meter (atau 7–8 meter untuk jalan dua arah), moda transportasi berbasis Buy The Service (BTS) seperti ini sebenarnya sangat cocok dan potensial diterapkan di Samarinda.
Lincah membelah koridor jalan berukuran sedang, bebas macet, murah, dan tetap manusiawi.
Bagi Sobat Nisita yang sedang berada di kawasan Banjarmasin dan Banjarbaru, jangan ragu untuk melipir ke halte terdekat. Cobalah sesekali menikmati ritme kota dari balik jendela ber-AC bus Tayo. Hematnya dapat, nyamannya terasa!















