Nisita.info, Jakarta – Di balik gemerlap layar kaca dan derasnya arus konten digital, terdapat potensi besar yang sedang dipersiapkan untuk menjadi tulang punggung baru ekonomi Indonesia.
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf)/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa ekonomi kreatif (ekraf) bukan lagi sekadar industri pelengkap, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi masa depan.
Pesan ini digaungkan kuat saat Menekraf melakukan kunjungan strategis ke kantor pusat Rajawali TV (RTV) di Jakarta, Rabu (11/2/2026). Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi birokrasi, melainkan langkah nyata dalam mengimplementasikan pendekatan Hexahelix—sebuah sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, pendanaan, dan media.
Dalam pandangan Teuku Riefky, kementerian tidak bisa berjalan sendirian dalam menghadapi tantangan industri ekraf yang dinamis. Media memiliki peran krusial sebagai katalisator yang menghubungkan ide-ide kreatif dari berbagai pelosok daerah ke pasar nasional, bahkan global.
“Ekraf ini di negara-negara lain sudah menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi mereka. Keterlibatan media penting untuk memperluas jangkauan promosi, memperkuat literasi publik, serta meningkatkan daya saing pelaku ekraf kita,” ujar Teuku Riefky.
Salah satu poin penting yang ditekankan Menekraf adalah distribusi potensi ekraf yang tersebar luas di daerah. Ia meyakini bahwa mesin ekonomi baru ini harus dimulai dari akar rumput. Media seperti RTV, yang telah memiliki jangkauan siaran nasional dan fokus pada konten keluarga serta animasi, dipandang sebagai mitra strategis untuk mengangkat konten-konten lokal tersebut.
Direktur Utama RTV, Artine Savitri Utomo, sependapat bahwa ekraf memiliki kekuatan soft power yang luar biasa. “Ekraf mampu memberikan sumbangan luar biasa untuk pendapatan negara. Kita berharap Indonesia bisa memaksimalkan potensi ini,” ungkapnya.
Kehadiran jajaran pejabat eselon satu Kementerian Ekraf, termasuk Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Muhammad Neil El Himam, dalam kunjungan tersebut menandakan bahwa fokus pemerintah ke depan akan sangat erat dengan digitalisasi konten.
Sinergi antara pemerintah yang menyusun regulasi dan media yang menyediakan platform distribusi diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang inklusif. Tujuannya jelas: memastikan kreator konten, animator, dan pelaku industri kreatif di daerah memiliki panggung yang layak untuk berkarya dan berkontribusi pada PDB nasional.
Kolaborasi ini menjadi sinyal positif bagi para pelaku ekonomi kreatif di seluruh Indonesia. Dengan dukungan media nasional, literasi mengenai pentingnya hak kekayaan intelektual (HAKI) dan komersialisasi produk kreatif diharapkan dapat meningkat pesat.
Langkah Teuku Riefky Harsya ke industri media adalah babak baru dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif yang tidak hanya modern, tetapi juga berdaya saing global dan tetap berpijak pada kekayaan budaya Nusantara.(KIF-ekraf/*)















