Nisita.info – Selama berpuluh-puluh tahun, pelajaran Sains di bangku sekolah seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang “gaib”.
Siswa dipaksa bertarung dengan rumus-rumus abstrak di papan tulis hitam tanpa benar-benar memahami apa yang terjadi di balik angka tersebut.
Teori kinetik gas, misalnya, selama ini hanya berhenti pada hubungan tekanan, volume, dan suhu yang dihafalkan demi nilai ujian.
Namun, suasana di ruang kelas kini mulai berubah. Melalui program Digitalisasi Pembelajaran yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), konsep abstrak tersebut mulai “dihidupkan” melalui Papan Interaktif Digital (PID).
Pembelajaran kini bergerak dari sekadar abstraksi menuju visualisasi konkret melalui pendekatan deep learning.
Visualisasi Nyata Hukum Boyle
Manfaat nyata teknologi ini dirasakan langsung di SMAN 1 Indralaya. Kepala Sekolahnya, Pudyo Laksono, bercerita betapa antusiasnya siswa saat melihat simulasi Hukum Boyle di layar interaktif. Siswa tidak lagi mengira-ngira bagaimana partikel gas bergerak.
“Siswa kini dapat melihat visualisasi pergerakan partikel secara langsung. Saat simulasi pompa dilakukan untuk menekan partikel di dalam wadah, siswa mengamati pergesekan antarpartikel hingga indikator tutup wadah terlepas. Ini menunjukkan secara konkret adanya tekanan besar dalam sistem tersebut,” jelas Pudyo.
Kehadiran PID di ruang kelas terbukti mampu menjembatani pemahaman konseptual yang selama ini sulit dibayangkan oleh siswa, terutama pada materi-materi fisika dan kimia yang bersifat mikroskopis.
Merata Hingga Pelosok dengan Starlink
Menariknya, digitalisasi ini tidak hanya milik sekolah di pusat kota. Di Sumatera Selatan, seluruh sekolah dilaporkan telah menerima bantuan PID. Di SDN 6 Pemulutan Barat, Kepala Sekolah Desi Huswinda melihat teknologi ini sebagai langkah nyata pemerataan kualitas pendidikan antara kota dan pedesaan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa tantangan geografis bukan lagi penghalang. Bagi daerah yang sulit dijangkau, pemerintah memberikan paket bantuan lengkap.
“Kami tidak hanya mengirimkan PID, tetapi kami juga bantu listriknya dan jaringannya dengan Starlink, sehingga PID dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh,” tegas Abdul Mu’ti. Program ini ditargetkan menjangkau lebih dari 288.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Adaptasi Cepat Berbasis Android
Ketakutan akan sulitnya pengoperasian alat baru ternyata tidak terbukti. Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, Marion, menyebutkan bahwa siswa tidak mengalami kesulitan beradaptasi. Sistem operasi PID yang berbasis Android sudah sangat akrab dengan keseharian generasi Z dan Alpha.
Di tingkat internal sekolah, pengawasan dan perawatan alat dilakukan secara kolaboratif melalui komunitas belajar. Proyek percontohan dilakukan agar perangkat tetap awet dan terus menjadi sarana yang menumbuhkan daya pikir kritis siswa.
Kini, teknologi tidak lagi diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan jembatan yang membawa siswa Indonesia melintasi rumus-rumus kaku menuju pemahaman ilmu pengetahuan yang lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan zaman.(*/)
Penulis: Uly
Editor: Denty A., Seno H.
Fotografer: Nurlaili
Sumber: Kemendikdasmen















