Nisita.info — Yayasan Genta Warisan Budaya Alam Nusantara (Gawiyyan) secara resmi membuka program Artist Residency bertajuk “Jejak Tanah, Identitas dan Perubahan” di Gedung Taman Budaya, Sabtu malam (12/9/2026).
Ketua Yayasan Gawiyyan, Fitri Eka Dinanti, menjelaskan program residensi seni ini bukan sekadar mengejawantahkan imajinasi bebas para perupa. Di balik setiap karya lukis yang tercipta, tersimpan proses riset mendalam, penggalian data sejarah, serta dialog langsung bersama para tokoh dan saksi kunci komunitas Dayak.
“Kegiatan kita sebenarnya melakukan kegiatan menggali budaya Dayak, khususnya merekam jejak mereka melalui lukisan,” ujar Fitri usai pembukaan.
Program Artist Residency Dayak Eksodus membagi narasi visual ke dalam tiga tahapan krusial. Babak pertama merekam wilayah asal atau tanah leluhur masyarakat Dayak. Tahap berikutnya menggambarkan proses migrasi atau perpindahan komunitas Dayak melintasi bentang alam hutan hingga berbagai wilayah baru.
Babak terakhir menyoroti bagaimana identitas, adaptasi lingkungan, dan pola kehidupan masyarakat tersebut mengalami transformasi seiring berjalannya waktu.
Sebagai bagian dari riset lapangan, para seniman turut membedah sejarah perkembangan komunitas Dayak di Kalimantan Timur, termasuk menjadikan Desa Budaya Pampang di Samarinda sebagai salah satu objek studi utama. Dalam prosesnya, para perupa bahkan berdialog langsung dengan figur yang menjadi generasi awal kedatangan di Pampang.
“Lukisan ini tidak hanya sekadar imajinasi daripada si pelukis, tetapi benar-benar kita melakukan riset, ngobrol dengan tokoh-tokoh tua, dan melakukan identifikasi data,” tegas Fitri.
Rangkaian kegiatan Artist Residency ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir September 2026, yang kemudian akan ditutup dengan pameran akbar hasil karya para seniman residensi.
Tidak berhenti pada pameran, Gawiyyan juga merancang program lanjutan berupa workshop seni lukis yang menyasar pelajar tingkat SMA hingga mahasiswa. Berpusat di Gedung Anak Bangsa, agenda edukatif ini diharapkan mampu merangsang minat generasi muda untuk mengenal lebih dekat proses berkesenian sekaligus merawat akar budaya lokal.
Sementara itu, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian, turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai seni dan kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun identitas generasi muda di tengah perubahan zaman.
“Mewakili generasi muda dan seluruh masyarakat yang terlibat, teruslah menjaga dan menghidupkan seni serta kebudayaan tanah air kita,” kata Hetifah yang menghadiri agenda secara daring.
Menurutnya, kebudayaan tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai bagian dari masa lalu. Kebudayaan juga perlu diberi ruang untuk berkembang melalui kreativitas generasi muda sehingga tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
“Bagi kita, kebudayaan bukan hanya tentang bicara masa lalu, tapi juga tentang bagaimana kita memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya, berkreasi, membangun masa depan dengan identitas yang kuat,” pungkasnya.(*/mn/yul)















