Budaya

Adat dan Budaya Jadi Aset Utama Masyarakat Dayak Kenyah Pampang

Nisita.info, Samarinda – Di tengah derasnya arus modernisasi dan kompetisi global yang menuntut akselerasi pendidikan serta teknologi, masyarakat Desa Wisata Budaya Pampang, Kota Samarinda, memiliki cara sendiri untuk menunjukkan taji mereka.

Melalui gelaran Festival Budaya Dayak Kenyah 2026, mereka menegaskan bahwa adat istiadat yang diwariskan turun-temurun bukanlah masa lalu yang usang, melainkan aset terbesar yang mereka miliki hari ini.

Ketua Panitia Festival, Madan Bid, secara terbuka mengakui adanya tantangan nyata yang dihadapi oleh masyarakat adat dalam konstelasi kehidupan modern. Dalam hal persaingan di sektor pendidikan formal atau industri modern, ia tidak menampik bahwa masyarakat daerah sering kali mengalami keterlambatan untuk memulai (start).

Namun, keterbatasan itu tidak membuat mereka inferior. Di balik dinamika kota yang kian bising, masyarakat Dayak Kenyah Pampang menyimpan sebuah kekuatan besar yang tidak dimiliki komunitas lain.

“Satu aset yang kita banggakan di daerah ini adalah budaya, adat ini. Ini cukup menjadi satu aset untuk kita pribadi sendiri dan untuk masyarakat kita,” ujar Madan dengan nada optimis.

Bagi masyarakat Pampang, kebudayaan tidak sekadar berhenti pada urusan estetika panggung atau tontonan visual semata. Seni tari yang dinamis, petikan dawai sampek yang magis, hingga kerajinan tangan berbahan manik dan kayu yang rumit, kini telah bertransformasi menjadi pilar ekonomi kreatif yang memiliki nilai (value) tinggi.

Lewat festival yang digelar selama empat hari ini, berbagai kerajinan tangan tradisional dan produk lokal dipamerkan melalui wadah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini terbukti berhasil memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga, memperluas perputaran modal, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat setempat.

Madan Bid menambahkan bahwa nilai ekonomi yang lahir dari rahim kebudayaan ini merupakan bukti nyata bahwa adat mampu menghidupi masyarakatnya jika dikelola dengan bangga dan konsisten.

Pada akhirnya, Festival Budaya Dayak Kenyah bukan lagi sekadar pesta hura-hura tahunan, melainkan sebuah ruang pembuktian: bahwa dengan menjaga identitas leluhur, masyarakat adat mampu mandiri secara ekonomi dan berdiri tegak di tengah peradaban modern.(TR/*)

Related Posts

1 of 6