Nisita.info, Samarinda – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur, Kamis (27/11/2025) menyelenggarakan Ekspose Seminar Hasil untuk dua riset strategis yang menjadi fokus pembangunan daerah.
Kedua riset tersebut adalah “Hilirisasi Produk Unggulan Kalimantan Timur untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Daerah” dan “Penerapan Model Peningkatan Kelompok Rentan di Provinsi Kalimantan Timur.” Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Syahrial Setia Brida Kaltim ini dibuka secara resmi oleh Kepala BRIDA Provinsi Kalimantan Timur, Dr. M. Ir. Fitriansyah.
Dalam sambutannya, Fitriansyah menyampaikan apresiasi atas terlaksananya riset-riset strategis ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas daerah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia menegaskan pentingnya hilirisasi produk unggulan daerah serta pemberdayaan kelompok rentan agar pembangunan di Kaltim dapat berjalan inklusif dan berkelanjutan. Selain itu Ia juga menyoroti bahwa struktur ekonomi Kaltim saat ini masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif.
“Berdasarkan data BPS, pertambangan masih mendominasi mayoritas, sekitar 50-an persen, sementara struktur industri pengolahan baru sekitar kurang dari 6 persen,” ungkap Dr. Fitriansyah. “Kondisi ini menempatkan kita dalam ketergantungan pada sektor ekstraktif yang membuat ekonomi daerah rentan terhadap fluktuasi harga global dan menyebabkan rendahnya nilai tambah lokal.”
Ia menambahkan, hasil riset Brida menunjukkan bahwa komoditas utama seperti kelapa sawit masih dijual dalam bentuk CPO hingga 80 persen, belum diolah menjadi produk turunan bernilai tambah.
“Ini butuh intervensi di sektor pengembangan industri dan juga pemerintah,” tegasnya. “Mudah-mudahan, nanti tim riset bisa memaparkan tepatnya apa hasilnya, dan juga yang paling penting rekomendasi kebijakannya nanti.”
Selain itu, tantangan logistik juga disinggung. “Ternyata, menurut kajian teman-teman tadi, biaya logistik ekspor Kaltim itu 30% dari biaya ekonomi kita,” katanya, menekankan perlunya solusi kebijakan yang dihasilkan dari riset.
Terkait riset kedua mengenai Kelompok Rentan, Kepala Brida Kaltim menekan pentingnya riset yang berdampak hingga ke level penerapan kebijakan.
“Kami di Brida, tidak hanya sekadar hasil laporan risetnya, tapi riset harus berdampak,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa riset ini penting dilakukan untuk mengantisipasi dampak sosial dari pengembangan Ibu Kota Negara (IKN).
“Apalagi kita sudah memiliki banyak sekali usaha industri seperti kawasan industri yang menjadi daya tarik. Dan jangan lupa, hari ini Kaltim, UMKM dan IKM telah ditargetkan oleh Pak Presiden dalam skema IKN-nya menjadi Superhub Ekonomi,” jelasnya.
Riset ini diharapkan dapat menawarkan model peningkatan kualitas hidup dan pemberdayaan bagi kelompok rentan, termasuk pekerja lokal yang termarjinalkan, lansia, hingga isu-isu sosial kompleks yang muncul di sekitar kawasan IKN. “Mudah-mudahan kelompok-kelompok ini juga bisa diberdayakan untuk memungkinkan economic growth di 8 persen,” tutupnya.
Pada sesi pemaparan, periset BRIDA menjelaskan temuan utama dari kedua riset, mulai dari analisis rantai nilai produk unggulan daerah hingga strategi hilirisasi yang dapat meningkatkan daya saing ekonomi Kaltim. Riset mengenai model peningkatan kelompok rentan juga menyoroti pendekatan intervensi sosial yang efektif.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanggapan dari narasumber penanggap, diskusi mendalam, serta tanya jawab yang melibatkan peserta dari berbagai sektor. Forum ini menjadi ruang penting untuk menyatukan perspektif pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat sipil.
BRIDA Kaltim berharap hasil riset ini dapat menjadi rujukan pengambilan kebijakan, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta mendorong peningkatan daya saing daerah menuju Kalimantan Timur yang lebih inovatif dan berkelanjutan.(tr)















