Nisita.info, Samarinda — Sebuah tanda tanya besar menggantung di balik judul produksi terbaru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Yupa Universitas Mulawarman. “WEHEA (?)”, sebuah lakon yang lahir dari kegelisahan sosial dan kekayaan akar budaya Kalimantan Timur, kini bersiap melakukan perjalanan jauh menuju Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) XII di Malang.
Namun, sebelum resmi menginjakkan kaki di tanah Jawa, Teater Yupa menyuguhkan “Pentas Pamit” sebagai ritual keberangkatan sekaligus pembuktian bahwa ekonomi kreatif berbasis seni pertunjukan di Benua Etam tengah berada dalam kondisi prima.
Naskah asli karya Ayyub Gasak ini tidak datang dengan tangan kosong. Di bawah arahan sutradara Febriana Dirot, “WEHEA (?)” diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan yang menjanjikan pengalaman visual dan batin. Lewat tangan dingin Febriana, identitas Kalimantan Timur tidak ditampilkan secara permukaan, melainkan digali melalui ruh dan kegelisahan yang dikemas dalam seni peran modern.
Pementasan ini menjadi representasi bagaimana mahasiswa mampu mengolah isu lokal menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tawar di kancah nasional. Judul dengan tanda tanya tersebut seolah menjadi undangan terbuka bagi penonton untuk memecahkan sendiri teka-teki identitas dan harapan yang coba digaungkan.
Bagi Jumriani, Ketua UKM Teater Yupa, keberangkatan mereka ke Malang pada 19-25 April nanti adalah sebuah misi pembuktian. Kreativitas mahasiswa Unmul ingin diletakkan di peta persaingan teater mahasiswa yang prestisius.
“Melalui ‘WEHEA (?)’, kami ingin menunjukkan bahwa karya dari Kaltim mampu berbicara banyak di kancah nasional,” tegas Jumriani.
Namun, di balik estetika panggung, ada mesin produksi yang bekerja keras. Ummi Humaeroh, sang Pimpinan Produksi, menyoroti bahwa karya ini adalah hasil kerja keras kolektif yang matang. Baginya, pementasan pamit ini bukan sekadar gladi bersih, melainkan cara mengumpulkan energi dari doa dan dukungan masyarakat Kaltim.
Seni pertunjukan adalah bagian dari subsektor ekonomi kreatif yang sangat bergantung pada apresiasi publik. Kehadiran penonton di Pentas Pamit bukan hanya soal tiket yang terjual, melainkan penguatan mentalitas bagi para aktor dan kru yang akan bertanding.
“Dukungan dan doa dari rekan-rekan di Kaltim adalah bekal utama bagi kami. Kehadiran kalian sangat berarti bagi mentalitas tim,” ungkap Ummi penuh harap.
Melalui “WEHEA (?)”, Teater Yupa tidak hanya membawa naskah dan dekorasi panggung ke Malang. Mereka membawa pesan tentang identitas, kegelisahan, dan harapan dari Kalimantan Timur. Dukungan masyarakat adalah energi penting yang akan mengiringi langkah mereka, memastikan bahwa suara dari Kaltim terdengar lantang dan berwibawa di panggung nasional. (sef/pt/*)















