Oase

Kartini Zaman Sekarang: Tentang Melindungi, Merangkul, dan Memimpin

Nisita.info — Setiap tanggal 21 April, kita sering kali terjebak pada seremoni kebaya dan sanggul. Namun, jika kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk perayaan, kita akan menemukan bahwa esensi perjuangan R.A. Kartini tidak pernah membeku dalam lembaran sejarah. Ia terus mengalir, berdenyut, dan bermetamorfosis dalam langkah-langkah nyata perempuan Kalimantan Timur masa kini.

Dalam sebuah ruang dialog hangat bertajuk “Kartini Kaltim Masa Kini: Memimpin, Menginspirasi, Menggerakkan” di TVRI Kaltim, Selasa (21/4), kita diajak merenung: sejauh mana surat-surat Kartini telah menjelma menjadi aksi?

Dahulu, Kartini mendobrak pingitan melalui surat dan tulisan. Kini, bagi Rina Zainun Asli, Ketua TRC PPA Kaltim, pena itu telah berganti menjadi perisai. Baginya, emansipasi hari ini adalah keberanian untuk bersuara bagi mereka yang tak terdengar—para perempuan dan anak yang terjebak dalam lingkaran kekerasan.

“Jika dahulu Kartini memperjuangkan pendidikan, kini perjuangan itu diwujudkan dalam perlindungan fisik dan mental,” ungkap Rina. Sebuah pengingat bagi kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektualnya, tetapi dari seberapa aman kaum lemah berlindung di bawah naungan hukum dan nurani masyarakatnya.

Lain lagi dengan oase pemikiran yang dibawa oleh Farah Flamboyant. Sebagai pegiat disabilitas, Farah mengajak kita menanggalkan kacamata “kasihan” dan menggantinya dengan kacamata “inklusi”.

Kartini masa kini dalam pandangan Farah adalah mereka yang mampu merangkul keberagaman. Ia mengingatkan bahwa anak-anak disabilitas bukanlah individu yang kurang, mereka hanya memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kemampuannya. Di sini, semangat Kartini hadir dalam bentuk penerimaan tanpa syarat dan penyediaan akses yang setara.

Di koridor birokrasi dan media, kita melihat sosok seperti Syarifah Alawiyah (Kabiro Adpim Setdaprov Kaltim) dan Febriani (Kepala Stasiun TVRI Kaltim). Bagi mereka, memimpin bukanlah soal menuntut hak karena gender, melainkan tentang membuktikan kualitas melalui profesionalisme.

Kepemimpinan perempuan saat ini bukan lagi tentang mendobrak pintu yang tertutup, melainkan tentang mengisi ruang yang sudah terbuka dengan integritas dan dedikasi. Mereka adalah bukti bahwa perempuan bisa berdiri di puncak menara kepemimpinan tanpa kehilangan kelembutan nurani yang menjadi kekuatannya.

Kartini-Kartini Kaltim ini mengajarkan kita bahwa menjadi “penggerak” tidak selalu berarti harus berada di panggung besar. Ia bisa berupa tangan yang mendekap korban kekerasan, suara yang menuntut akses bagi penyandang disabilitas, atau ketegasan dalam mengambil kebijakan di ruang rapat.

Semangat Kartini adalah semangat yang tidak pernah selesai. Ia adalah sebuah perjalanan panjang menuju kemanusiaan yang lebih adil. Dari Bumi Etam, kita belajar bahwa selama masih ada perempuan yang memimpin dengan hati, menginspirasi dengan karya, dan menggerakkan dengan empati, maka spirit Kartini akan selalu menemukan rumahnya di setiap zaman. (KRV/pt)

Related Posts

1 of 8