Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) bukan lagi sekadar teknologi rumit di dalam film-film fiksi ilmiah, melainkan alat bantu harian yang ramah bagi siapa saja?
Di era transformasi digital yang melesat kencang ini, impian itu perlahan-lahan bertransformasi menjadi sebuah realitas yang menyentuh ruang-ruang kehidupan kita.
Kabar sejuk datang dari jantung ibu kota pada Kamis (4/6/2026). Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) resmi menggandeng ASEAN Foundation untuk menggelar karpet merah bagi pengembangan kecerdasan buatan melalui program bertajuk ASEAN AI Ready fase kedua.
Langkah ini laksana oase yang menyegarkan di tengah dahaga literasi teknologi. Program ini secara ambisius membidik jutaan masyarakat Indonesia—mulai dari ujung Aceh hingga pelosok Papua—untuk bersama-sama naik kelas dan melek teknologi masa depan.
Sering kali kita merasa minder atau asing ketika mendengar istilah AI. Ada ketakutan bahwa teknologi cerdas ini hanya milik masyarakat urban atau mereka yang bergelut di bidang robotika. Namun, sinergi regional ini justru ingin meruntuhkan sekat-sekat eksklusivitas tersebut.
Wamenkomdigi Nezar Patria dengan sangat indah mengingatkan kita semua bahwa di masa depan yang serba digital ini, memahami AI bukanlah sebuah gengsi atau gaya hidup.
“Literasi AI bukanlah sebuah kemewahan, melainkan prasyarat agar masyarakat dapat berpartisipasi secara setara dalam masa depan digital,” — Wamenkomdigi Nezar Patria.
Melalui program ASEAN AI Ready, teknologi ini akan diperkenalkan dengan cara yang humanis, aman, dan etis. Sasarannya pun sangat menyentuh akar rumput: para siswa SMA/SMK, mahasiswa aktif, guru-guru yang berdedikasi di sekolah, hingga para orang tua. Tujuannya sederhana namun mendalam, yaitu memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal atau merasa terasing di rumahnya sendiri ketika dunia luar sudah berlari bersama teknologi.
Tidak tanggung-tanggung, program jilid kedua ini menargetkan pelatihan intensif untuk sekitar 250.000 peserta di seluruh kawasan Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai sasaran utamanya. Sebelum fase ini dimulai, fondasi kuat sebenarnya telah terbangun, di mana program ini tercatat sukses memberikan dampak literasi dasar digital kepada lebih dari 5,3 juta masyarakat di tanah air.
Dengan penandatanganan kerja sama ini, BPSDM Komdigi juga memperkuat ekosistem dalam negeri melalui inisiatif AI Talent Factory (AITF) yang berkolaborasi dengan kampus-kampus besar seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Brawijaya (UB).
Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah alat, namun manusialah penentu ke mana arah kemajuan itu akan dibawa. Kolaborasi Kemkomdigi dan ASEAN Foundation ini adalah sebuah undangan terbuka bagi kita semua untuk membuka mata dan hati. Mari menyambut AI bukan dengan rasa cemas, melainkan dengan semangat belajar yang gembira, demi merajut masa depan Indonesia yang cerdas, inklusif, dan berdaya saing global.(*/)
Sumber: Siaran Pers No. 88/HM-KKD/6/2026, Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Digital RI (komdigi.go.id).















