Nisita.info – Bayangkan sebuah skenario terburuk yang semoga tidak terjadi. Banjir besar atau kebakaran hebat melanda sekolah. Musibah ini tentu saja bisa menghanguskan atau merusak seluruh lemari arsip dan tumpukan kertas laporan hasil belajar siswa.
Di masa lalu, peristiwa ini berarti hilangnya riwayat pendidikan seorang anak selamanya. Namun, di era digital ini, kecemasan itu mulai memudar.
Direktur Jenderal Paud Dasmen Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menekankan bahwa salah satu urgensi peralihan ke e-Rapor versi 2025 adalah faktor keamanan data.
Dengan sistem digital, rapor setiap siswa tersimpan dengan aman di pangkalan data pusat, terhindar dari kerusakan fisik akibat bencana alam. Di sinilah teknologi bekerja bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan sebagai “asuransi” bagi masa depan generasi bangsa.
Penerapan e-Rapor versi terbaru ini membawa angin segar bagi SMA di seluruh Indonesia. Tidak sekadar memindahkan angka ke layar, versi 2025 hadir dengan fitur-fitur yang lebih personal dan fungsional.
Kini, sekolah dapat mengunggah foto siswa secara langsung, menyematkan kop sekolah yang prestisius, hingga melihat grafik perkembangan nilai siswa dari semester ke semester secara visual.
“e-Rapor membuat proses penilaian menjadi lebih sistematis, akurat, dan transparan,” ujar Dirjen Gogot. Integrasi ini memastikan bahwa setiap capaian belajar siswa langsung tersinkronisasi ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik), mendukung kebijakan pendidikan nasional yang berbasis data.
Bagi para guru, hadirnya aplikasi ini adalah solusi atas kejenuhan administratif. Direktur SMA, Winner Jihar Akbar, menjelaskan bahwa sistem ini memperkuat pengambilan keputusan di sekolah. Kolaborasi antar-guru meningkat karena mereka bekerja dalam satu platform yang sama. Tidak ada lagi cerita guru mata pelajaran terputus komunikasinya karena data tersimpan di spreadsheet masing-masing yang terpisah.
Lebih jauh lagi, efisiensi ini berdampak langsung pada peluang siswa masuk ke perguruan tinggi. Karena e-Rapor tersinkronisasi dengan Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), data siswa yang memenuhi syarat (eligible) untuk Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNBP) akan terisi secara otomatis dan akurat. Ini meminimalisir kesalahan input manual yang sering kali merugikan siswa saat mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Tantangan Literasi di Balik Opsi
Meski menawarkan segudang keunggulan, pemerintah masih memberlakukan e-Rapor sebagai sebuah opsi, bukan kewajiban mutlak.
Saat ini, tercatat baru 8.942 satuan pendidikan yang menerapkan pembagian rapor digital, dengan 4.563 di antaranya sudah mencicipi versi 2025.
Perjalanan menuju digitalisasi penuh memang masih panjang. Namun, dengan hadirnya e-Rapor yang juga mulai merambah jenjang SD dan SMP, Indonesia sedang membangun fondasi pendidikan yang lebih hijau (tanpa banyak kertas), lebih transparan, dan yang terpenting: lebih aman bagi dokumentasi perjalanan intelektual setiap anak didiknya.(puslapdik-kemendikdasmen)















