Warta Utama

Mendikdasmen: Ikatlah Ilmu Dengan Menulisnya

Nisita.info – Kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, ke SDN 6 Sumerta, Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu bukan sekadar agenda rutin peninjauan lapangan. Di balik interaksi hangat sang menteri dengan murid-murid kelas 4, terselip sebuah pesan ideologis yang kuat mengenai arah baru kurikulum kita, Deep Learning atau pembelajaran mendalam.

Konsep deep learning yang ditekankan Menteri Mu’ti menjadi antitesis terhadap model pendidikan “hafalan” yang selama ini sering dikritik. Dengan mengajak siswa memahami penggunaan kata hubung secara kontekstual, pemerintah sedang mencoba menggeser beban belajar dari sekadar mengingat teks menjadi kemampuan mengaitkan pengetahuan dengan realitas sehari-hari. Inilah esensi literasi yang sebenarnya—kemampuan untuk memahami, bukan sekadar mengeja.

Satu kutipan menarik yang patut digarisbawahi adalah pesan beliau: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Dalam era digital yang serba instan, aktivitas menulis tangan seringkali terpinggirkan oleh ketikan layar. Namun, secara pedagogis, menulis adalah proses kognitif yang kompleks. Ia melibatkan koordinasi motorik sekaligus memperkuat daya ingat.

Membangun budaya menulis sejak dini adalah investasi karakter. Melalui tulisan, seorang anak belajar untuk menyusun struktur berpikirnya, berlatih sabar dalam proses, dan yang terpenting, “mengikat” pemahaman agar tidak hilang tertiup angin informasi. Kebiasaan ini merupakan fondasi utama untuk melahirkan generasi yang reflektif dan penuh kesadaran (mindful learning).

Transformasi pendidikan mustahil berjalan jika ruang belajarnya tidak memadai. Peninjauan gedung SDN 6 Sumerta yang masuk dalam Program Wujudkan Sekolah ASRI menunjukkan adanya upaya sinkronisasi antara aspek pedagogis dan infrastruktur. Revitalisasi ruang kelas merupakan implementasi nyata dari program strategis Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Fasilitas yang baik adalah wadah, sementara metode pengajaran adalah isinya. Keduanya harus selaras. Sekolah yang “ASRI” (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) memberikan ketenangan psikologis bagi siswa untuk mengeksplorasi kreativitas mereka tanpa rasa was-was.

Kita harus mengapresiasi upaya kementerian untuk terjun langsung ke tingkat sekolah dasar guna memastikan bahwa kebijakan di Jakarta benar-benar mendarat di ruang-ruang kelas di daerah. Namun, tantangan terbesarnya tetaplah konsistensi.

Penerapan deep learning menuntut kesiapan guru yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu memantik diskusi interaktif. Kita berharap, pesan “mengikat ilmu dengan tulisan” ini tidak hanya menjadi slogan bagi siswa di Bali, melainkan menjadi semangat nasional untuk mengembalikan marwah literasi Indonesia. Sebab, pendidikan yang baik bukanlah tentang berapa banyak buku yang dibaca, melainkan berapa banyak ilmu yang berhasil dipahami dan “diikat” untuk masa depan. (Kemendikdasmen/*)

Related Posts

1 of 22