Oase

Menyisir Jejak Seriosa di Gedung AA Maramis

Nisita.info – Lorong-lorong megah Gedung AA Maramis, Jakarta, seolah kembali ke era 1950-an. Di bawah lampu sorot set produksi, aroma sejarah terasa begitu kental saat kamera mulai merekam adegan demi adegan kehidupan sang legenda seriosa Indonesia, Rose Pandanwangi.

Selasa (27/1/2026) lalu, atmosfer lokasi syuting terasa kian istimewa dengan kehadiran Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Ia hadir bukan sekadar meninjau, melainkan memberikan dukungan penuh pada proyek co-production ambisius yang melibatkan empat negara: Indonesia, Filipina, Belanda, dan Prancis.

“Kolaborasi lintas negara dalam film Rose Pandanwangi adalah bagian dari diplomasi budaya. Kita memperkenalkan warisan seni dan sejarah bangsa ke pasar global melalui kekuatan storytelling,” ujar Teuku Riefky di sela-sela kunjungannya.

Film yang digarap oleh Summerland Films ini bukan biopik biasa. Rose Pandanwangi adalah ikon musik yang memiliki hubungan personal mendalam dengan maestro lukis S. Sudjojono. Di tangan sutradara Razka Robby Ertanto, film ini diproyeksikan menjadi Intellectual Property (IP) yang memberikan legitimasi pada narasi sejarah bangsa.

Teuku Riefky meyakini bahwa film ini adalah bentuk branding Indonesia yang strategis. “Keberlanjutan ekosistem kreatif sangat penting agar film biopik seperti ini bisa menjadi soft power Indonesia di festival film internasional,” imbuhnya.

Bentuk dukungan pemerintah pun nyata. Dari sisi birokrasi, Kementerian Ekraf mempermudah perizinan lokasi-lokasi ikonik seperti Istana Kepresidenan Bogor, Museum Nasional, hingga Kota Tua demi menjaga akurasi historis film tersebut.

Razka Robby Ertanto, yang juga bertindak sebagai sutradara, mengungkapkan tantangan menghadirkan era 1950-1969 ke layar lebar. Di hari ke-10 produksinya, ia tampak antusias menceritakan misi besar di balik film ini.

“Kami ingin generasi sekarang kenal lebih dekat bahwa musik seriosa pernah berjaya pada masanya. Rose Pandanwangi bukan hanya penyanyi, beliau adalah pemenang festival internasional yang membanggakan,” ungkap Robby. Rencananya, setelah menyelesaikan syuting di Indonesia pada 31 Januari, tim akan bertolak menuju Eropa untuk melanjutkan produksi.

Kehadiran jajaran pemeran seperti Pevita Pearce, Refal Hadi, hingga penyanyi seriosa Aning Katamsi memperkuat optimisme bahwa film ini akan menjadi karya yang utuh dan membanggakan. Terlebih, proyek ini telah mencuri perhatian di Festival Film Cannes 2025 dan masuk dalam daftar JAFF Future Project.

Melalui ‘Rose Pandanwangi’, Indonesia tidak hanya sedang memproduksi film, tetapi sedang merajut kembali memori kolektif bangsa untuk dipamerkan dengan bangga di etalase dunia.(KIF-ekraf/*)

Related Posts

1 of 6