Dibalik deretan rumah di Gang 4 Jalan Jelawat, sebuah gedung kecil menjadi benteng pertahanan kesehatan balita. Namun, di Hari Posyandu Nasional ini, sunyinya langkah kaki warga menuju timbangan menjadi catatan penting bagi wakil rakyat yang turun langsung ke lapangan.
Nisita.info — Suasana Posyandu Sehati di Kecamatan Samarinda Ilir tampak ramai hari itu, Kamis (30/4/2025). Namun, dari 52 orang yang menjadi sasaran, tak sampai separuhnya yang hadir untuk melakukan pemeriksaan. Tidak terkecuali balita yang perlu ditimbang berat dan diukur tinggi badannya.
Di tengah warga Jalan Jelawat, Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Hj. Riska Wahyuningsih, tampak hangat menggendong salah satu bayi, bercengkerama dengan para ibu yang datang, sembari menyelami akar masalah yang dihadapi garda terdepan kesehatan masyarakat ini.
Hj. Riska mengakui bahwa antusiasme masyarakat perlu dipantik kembali dengan strategi yang lebih menarik. “Jumlah kunjungan memang belum sesuai target. Kita harus membuat sesuatu yang menarik agar masyarakat mau datang ke Posyandu,” ujarnya usai memantau kegiatan.
Minimnya fasilitas menjadi salah satu sorotan utama politisi perempuan ini. Menjawab tantangan tersebut, Hj. Riska berkomitmen mengawal perbaikan sarana melalui dana Pokok Pikiran (Pokir).
“Di tahun 2025, Pokir saya sudah dikhususkan untuk pengadaan alat dan pembangunan gedung Posyandu. Tahun 2026 ini, jika ada ruang, akan saya tambahkan lagi. Saya ingin orang-orang merasa nyaman dan mau datang. Hasil kunjungan ini juga akan saya sampaikan ke Ketua Komisi IV, termasuk usulan pemberian insentif agar kader semakin semangat,” tegasnya.
Antara Dokter Pribadi dan Keterbatasan Alat
Ketua Posyandu Sehati, Siti Rabiah, membeberkan realita mengapa angka kehadiran sulit mencapai target 100 persen. Kedekatan lokasi dengan Puskesmas membuat sebagian warga memilih langsung ke sana, sementara warga dengan ekonomi mampu lebih memilih berkonsultasi ke dokter pribadi.
“Walaupun sudah kami umumkan di masjid dan grup WhatsApp, bahkan kami datangi door to door, masih banyak yang tidak hadir. Itulah mengapa kader kami harus orang-orang yang berjiwa sosial tinggi, karena memang tidak ada honor tetap,” ungkap Siti Rabiah.
Siti juga menceritakan bagaimana perjuangan para kader sebelum adanya bantuan alat modern. “Dulu kami pakai meteran kain. Sekarang kader juga dituntut menguasai 25 kompetensi dan 6 SPM, sehingga pelatihan bagi kader baru sangat mendesak. Untuk alat cek gula darah dan kolesterol, saat ini kami masih swadaya pakai milik pribadi,” tambahnya.
Harapan Melalui Dana Probebaya
Meski bergerak dengan semangat kemanusiaan, Siti mengakui kehadiran dana Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) memberikan angin segar. Dana tersebut membantu penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta bantuan honor yang menjadi penyemangat bagi para kader.
Menutup kunjungannya, Hj. Riska Wahyuningsih menitipkan pesan kuat bagi seluruh orang tua di Samarinda. Ia mengingatkan bahwa keberadaan Posyandu adalah kunci utama dalam mendeteksi dini kesehatan anak dan mencegah ancaman stunting.
“Ayo, datang ke Posyandu! Biar stunting kita menurun dan generasi kita tumbuh sehat,” ajaknya dengan penuh semangat.
DPRD Kota Samarinda melalui Komisi IV berkomitmen untuk terus mendorong Pemerintah Kota agar memberikan perhatian lebih pada revitalisasi Posyandu, baik dari sisi kecanggihan alat medis maupun peningkatan kompetensi para kadernya. (Adv/DPRD Samarinda/tr)







