Oase

Asa di Atas Piring Makan Kita

Halo, Sobat Nisita! Pagi ini, sebuah kabar baik berseliweran di linimasa. Melalui akun Facebook resminya, Kementerian Pertanian Republik Indonesia membagikan sebuah optimisme yang menyegarkan di tengah ketidakpastian global.

Berdasarkan proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia diperkirakan akan menjadi produsen beras terbesar di ASEAN dengan produksi mencapai 38,6 juta ton, sekaligus menempati peringkat ke-4 dunia pada periode 2026/2027.

Membaca kabar tersebut, ada rasa bangga yang pelan-pelan menyelinap. Di saat banyak negara di belahan bumi lain sedang limbung menghantam dampak El Nino dan mengalami penyusutan luas tanam, sektor pertanian kita justru diproyeksikan sebaliknya: meningkat dan tangguh.

Kabar ini seolah menjadi pengingat yang sejuk bagi kita semua. Sektor pertanian, atau sektor produktif pada umumnya, sering kali berjalan dalam sunyi. Ia kalah mentereng jika dibandingkan dengan hiruk-pikuk industri modern atau gemerlap investasi digital yang padat modal. Pertanian kerap dianggap sebagai urusan masa lalu yang kurang berkilau.

Unggahan dari Kementerian Pertanian itu menegaskan kembali satu hal yang fundamental: ketahanan pangan yang kuat adalah fondasi utama untuk mewujudkan bangsa yang mandiri dan berdaulat.

Tanpa tanah yang subur, petani yang berpeluh merawat benih, dan kebijakan yang berpihak pada isi piring masyarakat, seluruh narasi kemajuan sebuah bangsa akan terasa semu.

Setiap bulir nasi yang kita santap hari ini adalah simbol dari ketangguhan itu. Ia adalah hasil dari rantai panjang perjuangan dari lumpur sawah hingga sampai ke meja makan.

Angka 38,6 juta ton dan peringkat ke-4 dunia tentu bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah amanah besar. Sebuah pengingat bagi seluruh pemangku kebijakan—baik di tingkat pusat hingga ke daerah—untuk terus memuliakan keringat para petani kita. Menjaga lahan mereka agar tidak habis tergilas beton, memastikan pupuk tersalurkan, dan menjamin kesejahteraan mereka tetap terjaga.

Sebab pada akhirnya, kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari megahnya gedung-gedung pencakar langit, melainkan dari kemampuan tanahnya untuk memberi makan warganya sendiri dengan rasa bangga.(*/)

Related Posts

1 of 10