Halo, Sobat Nisita! Bagi banyak dari kita, gempuran teknologi dan arus informasi digital sering kali dirasa seperti ombak besar yang siap mengikis apa saja, termasuk nilai-nilai tradisi yang kita miliki.
Ada kekhawatiran nyata bahwa layar gawai yang hari ini digenggam oleh anak-anak muda akan menjauhkan mereka dari halaman Lamin Adat, dari petikan dawai sampek, atau dari makna mendalam di balik ukiran perisai leluhur.
Namun, ada sudut pandang menyejukkan yang patut kita renungkan bersama dari pelataran Desa Wisata Budaya Pampang, Kamis (25/6/2026) kemarin. Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, mengajak kita semua—terutama para generasi muda Sobat Nisita—untuk mengubah cara pandang tersebut.
Ruang digital dan modernisasi modern tidak harus disikapi sebagai musuh dari kelestarian adat. Sebaliknya, ruang itu adalah panggung baru yang sedang menanti untuk dikuasai.
Celni mengingatkan bahwa tantangan terbesar kebudayaan hari ini bukanlah ketiadaan penerus, melainkan bagaimana cara kita mengemas nilai-nilai autentik tersebut agar tetap memikat di mata generasi Z dan milenial.
“Anak-anak muda harus menjadi bagian dari pelestarian budaya, bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku. Mereka perlu dilibatkan dalam promosi budaya melalui media digital,” ungkapnya penuh harap.
Melalui untaian kalimat itu, kita diajak menyadari sebuah pesan oase yang jernih: melestarikan tradisi tidak berarti kita harus menolak kemajuan zaman. Anak muda Pampang hari ini membuktikan bahwa mereka bisa tetap gagah mengenakan pakaian adat, terhubung dengan memori kolektif masa lalu, sekaligus lincah merawat eksistensi budaya mereka agar dikenal dunia luar lewat kreativitas di media digital.
Di tengah riuhnya perkembangan Kota Samarinda, komitmen parlemen untuk membenahi infrastruktur fisik di Pampang tentu sangat berharga. Namun, jiwa dari desa wisata tersebut berada di tangan anak-anak mudanya. Ketika jemari generasi muda mampu menenun keaslian makna adat ke dalam konten kreatif yang bijaksana, saat itulah kebudayaan Dayak Kenyah tidak sekadar bertahan dari serbuan zaman, melainkan tumbuh menjadi identitas yang tak terbatas sepanjang hayat.
Mari berefleksi, Sobat Nisita: di ruang digital mana kita akan mengambil peran untuk menjaga akar sejarah kita hari ini?















