Olah Pikir

Antara Kemewahan Dunia dan Kedamaian Mardhatillah

Oleh: Redaksi Nisita

Jumat, 4 September 2026

PERNAHKAH kita bertanya-tanya di tengah hiluk-pikuk rutinitas harian: di mana letak kebahagiaan yang sejati itu?

​Sebagian orang mempertaruhkan waktu, tenaga, hingga jiwanya untuk mengejar tumpukan harta, pencapaian jabatan yang tinggi, atau gelar akademis yang berderet. Ada anggapan bahwa makin melimpah materi yang digenggam, makin dekat pula seseorang pada rasa bahagia.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan hal sebaliknya. Harta yang berlimpah tidak jarang menyisakan kecemasan, dan kedudukan tinggi kerap mendatangkan kegelisahan tanpa henti. Kekeliruan sudut pandang inilah yang membuat manusia melenceng dari makna inti tujuan hidupnya.

Lantas, di manakah sejatinya kebahagiaan itu berada?

Keridhaan Tuhan sebagai Muara Jiwa
​Dalam tradisi pemikiran Islam, kebahagiaan yang hakiki (sa’adah) tidak diukur dari seberapa banyak hal duniawi yang mampu kita kumpulkan, melainkan dari muara keridhaan Allah SWT (mardhatillah). Seperti yang diungkapkan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, ridha adalah pintu Allah yang paling luhur.

Barang siapa yang mampu memandang dinamika kehidupan dengan mata hatinya dan berjalan di atas ketetapan-Nya, ia akan menemukan kedamaian yang tak terguncang.

Ridha mengandung makna kelapangan dada dan ketentraman jiwa dalam menerima segala ketetapan takdir, baik yang menyenangkan maupun yang dirasa pahit. Seseorang yang telah menggapai ketenangan batin ini paham betul bahwa rizki dan ketetapan hidup sudah diatur oleh sang Khalik. Dalam Al-Qur’an, muara kebahagiaan saling membalas ridha ini terpampang jelas: Radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anhu—”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya” (QS. Al-Ma’idah: 119).

Riyadhotun Nafs: Melatih Jiwa di Tengah Gelombang Zaman

Menggapai kondisi batin yang stabil dan ridha tentu bukan hal yang instan. Diperlukan sebuah proses olah rohani atau latihan jiwa yang konsisten, yang dalam ilmu tasawuf dikenal dengan istilah Riyadhotun Nafs.

Riyadhotun Nafs merupakan upaya bersungguh-sungguh (mujahadah) untuk membiasakan akhlak terpuji dan mengikis penyakit-penyakit batin seperti sifat tamak, dengki, dan sombong. Dalam tataran praktisnya, olah jiwa ini dilalui melalui tahapan-tahapan batin (maqamat), mulai dari kesadaran untuk memohon ampun (taubat), menahan diri dari yang meragukan (wara’), tidak memperhambakan diri pada materi (zuhud), hingga kepasrahan yang bulat (tawakal).

Di tengah zaman yang makin pragmatis dan sarat tuntunan visual ini, melatih jiwa (riyadhah) tidak berarti kita harus mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Sebaliknya, riyadhah mengajarkan kita untuk tetap aktif beraktivitas dan berkarya di dunia, namun tidak membiarkan hati kita ‘terikat’ atau dijadikan budak oleh dunia itu sendiri.

​Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas latihan jiwa seseorang akan membentuk karakter batin yang berbeda-beda. Ada orang yang berhasil mencapai kejujuran dan ketulusan batin yang utuh (Riyadhoh Shadiqin), tetapi ada pula yang latihannya terjebak pada formalitas ritual semata tanpa menyentuh perubahan perilaku dan keikhlasan jiwa (Riyadhoh Maghbun).

Menjadikan Setiap Langkah sebagai Sarana Mardhatillah

Pada akhirnya, mencapai mardhatillah bukanlah jalan eksklusif yang hanya bisa ditempuh oleh mereka yang menyendiri di rumah ibadah. Setiap tugas dan profesi yang kita jalani sehari-hari—baik saat bekerja melayani masyarakat, menyusun ide karya tulis, mengajar, hingga mengasuh keluarga—dapat menjadi sarana meraih keridhaan Allah.
​Kuncinya terletak pada niat yang bersih dan kesadaran batin (khasyyah). Ketika sebuah pekerjaan diniatkan semata-mata sebagai bentuk pengabdian dan ketakwaan, maka di situlah nilai keridhaan Tuhan akan hadir.

Sebagaimana pesan dalam sebuah hadits, barang siapa yang mengutamakan keridhaan Allah meskipun kadang tidak menyenangkan pandangan manusia, maka Allah akan meridhai langkahnya dan memperindah perbuatannya.

Di tengah riuk rendah kehidupan modern saat ini, mari sejenak menengok ke dalam diri. Sudahkah kita mengejar hal yang tepat? Karena pada hakikatnya, puncak kemenangan seorang hamba bukanlah saat ia berhasil menggenggam dunia, melainkan saat hatinya tenang dan meraih mardhatillah.(*/)

Related Posts

1 of 5