Sekolah-Kampus

FIK UI Dorong Komunikasi Asertif Dalam Keluarga

Nisita.info, Depok – Pencegahan perilaku adiktif pada remaja seperti kecanduan gim hingga kebiasaan merokok tidak cukup sekadar mengandalkan larangan atau memberikan edukasi tentang bahaya kesehatan. Universitas Indonesia (UI) menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun komunikasi yang terbuka dan asertif, sehingga rumah menjadi ruang aman utama bagi remaja untuk menyampaikan berbagai persoalan hidupnya.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas), Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI menerjunkan tim akademisinya ke Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Langkah nyata ini ditujukan untuk membekali para orang tua dan remaja dengan keterampilan komunikasi guna menangkal ancaman adiksi sejak dini.

Inisiatif tersebut menjadi langkah responsif atas tingginya angka perokok muda di tanah air. Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan terdapat sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia, di mana 7,4 persen di antaranya merupakan anak-anak dan remaja usia 10–18 tahun.

Seni Komunikasi Asertif: Metode Say-No dan I-Language

Ketua tim pengmas dari Klaster Mental Health & Psychiatric Nursing FIK UI, Herni Susanti, mengungkapkan bahwa ketahanan remaja dalam menghadapi tekanan pergaulan (peer pressure) sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan di dalam rumah.

“Kami ingin keluarga jadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara tentang masalahnya. Makanya, fokusnya bukan hanya edukasi soal bahaya adiksi, tapi juga bagaimana caranya orang tua dan anak bisa ngobrol dengan baik dan nyaman,” ujar Herni dalam keterangan tertulisnya.

Berlangsung pada pertengahan September 2026, program kolaboratif bersama Komunitas Saung Belajar (KSB) ini melibatkan 20 pasangan orang tua dan anak. Dalam pendampingan intensif tersebut, tim UI yang terdiri dari pakar keperawatan jiwa—termasuk Novy Helena Catharina Daulima, Ria Utami Panjaitan, dan Dian Fitria—bersama akademisi Psikologi Universitas Gunadarma, Dr. Anugriaty Indah Asmarany, melatih peserta mempraktikkan teknik Say-No dan I-Language.

Melalui pendekatan komunikasi asertif ini, orang tua diajarkan cara menetapkan batasan dan aturan tanpa bersikap menghakimi atau mengekang. Sebaliknya, remaja dibekali kemampuan menyampaikan penolakan terhadap ajakan negatif serta mengekspresikan pendapatnya secara santun dan tegas tanpa memicu konflik.

Dukungan Komunitas dan Keberlanjutan

Pendiri KSB, Citra Amelia, menyambut positif intervensi berbasis komunitas yang digagas oleh UI. Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang sebenarnya peduli namun kebingungan dalam memulai dialog yang efektif dengan anaknya yang mulai beranjak remaja.

“Banyak orang tua di sini sebenarnya bingung harus mulai dari mana. Program ini sangat membantu anak dan orang tua untuk jadi lebih dekat dan terbuka untuk berkomunikasi, sehingga anak tidak lari ke adiksi,” tutur Citra.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan penandatanganan pakta komitmen keluarga dan penyusunan aturan bersama yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah. Melalui aksi ini, Universitas Indonesia membuktikan komitmennya dalam menerjemahkan kepakaran akademik menjadi solusi konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

(Sumber berita dan foto: InfoPublik.id)

Related Posts

1 of 9